edukasi

Mengenal Alat Transportasi Cikar yang Digerakkan Sapi dan Dikendarai Bajingan

Selasa, 16 Juni 2026 | 22:41 WIB
Ilustrasi penggunaan Cikar di pedesaan Jawa (gemini)

KLIK SAJA - Jauh sebelum kendaraan bermotor mendominasi jalanan, masyarakat Indonesia telah mengenal beragam moda transportasi tradisional untuk menunjang aktivitas sehari-hari.

Salah satunya adalah cikar, kendaraan sederhana yang memanfaatkan tenaga sapi sebagai penggeraknya.

Pada masanya, cikar menjadi sarana transportasi yang penting bagi masyarakat, baik untuk mengangkut orang maupun hasil bumi.

Moda transportasi ini banyak ditemukan di berbagai wilayah Pulau Jawa, meskipun penggunaannya juga pernah menyebar ke beberapa daerah lain seperti Sumatra dan Lombok.

Secara bentuk, cikar memiliki kemiripan dengan delman atau dokar. Kendaraan ini terdiri atas sebuah kerangka yang dipasang pada roda dan ditarik oleh sapi.

Namun, berbeda dengan delman yang menggunakan tenaga kuda, cikar mengandalkan kekuatan dua ekor sapi untuk menggerakkannya.

Kerangka cikar umumnya dibuat dari kayu yang kuat dan tahan lama. Pada masa lalu, kayu jati menjadi bahan utama yang paling banyak digunakan karena terkenal kokoh dan awet.

Selain kayu jati, beberapa pengrajin juga memanfaatkan kayu bengkirai dan jenis kayu keras lainnya yang mampu menahan beban berat serta tahan terhadap perubahan cuaca.

Tidak hanya berfungsi sebagai alat transportasi penumpang, cikar juga memiliki peran penting dalam kehidupan agraris masyarakat Indonesia.

Saat musim panen tiba, kendaraan ini menjadi andalan para petani untuk mengangkut hasil bumi dari sawah atau ladang menuju pasar maupun tempat penyimpanan.

Salah satu sisi menarik dari cikar terletak pada sebutan bagi para pengemudinya. Di sejumlah daerah di Pulau Jawa, pengendara cikar dikenal dengan sebutan bajingan.

Saat ini kata "bajingan" sering dipahami sebagai umpatan atau istilah bernada negatif. Namun, makna tersebut berbeda dengan penggunaan pada masa lalu.

Dalam konteks transportasi tradisional, bajingan merupakan sebutan yang diberikan kepada para pengemudi gerobak yang ditarik oleh sapi.

Istilah tersebut lahir dari kehidupan masyarakat pedesaan dan tidak mengandung makna penghinaan.

Halaman:

Tags

Terkini