edukasi

Mengenal Usmar Ismal, Sang Bapak Perfilman Indonesia: Pejuang Lintas Kamera

Sabtu, 10 Januari 2026 | 23:47 WIB
Usmar Ismail (berbagai sumber)

Ia tidak memahat pahlawan sebagai patung, melainkan menghadirkannya sebagai manusia.

Warisan Karya dan Pengakuan Negara

Sepanjang kariernya, Usmar Ismail konsisten menghadirkan film yang tak hanya menghibur, tetapi juga mencerminkan realitas sosial dan budaya Indonesia.

Tema perjuangan kemerdekaan, kemiskinan, kesenjangan sosial, hingga kritik terhadap materialisme kerap hadir dalam karyanya.

Pada tahun 2021, negara mengukuhkan jasanya dengan menetapkan Usmar Ismail sebagai Pahlawan Nasional. Namanya juga diabadikan dalam Pusat Perfilman Usmar Ismail (PPUI) di Kuningan, Jakarta.

Deretan Film Karya Usmar Ismail

  • Darah dan Doa (1950)
  • Enam Jam di Yogya (1951)
  • Dosa Tak Berampun (1951)
  • Krisis (1953)
  • Kafedo (1953)
  • Lewat Jam Malam (1954)
  • Tiga Dara (1956)
  • Asrama Dara (1958)
  • Pejuang (1960)
  • Big Village (1969)

Warisan yang Terus Hidup

Sebagai Bapak Perfilman Indonesia, Usmar Ismail meletakkan fondasi etika, estetika, dan nasionalisme yang hingga kini masih menjadi pegangan para sineas.

Ia wafat pada 2 Januari 1971, meninggalkan warisan yang tak ternilai: semangat untuk tidak menjadi penonton di negeri sendiri dan keberanian untuk berkarya dengan identitas bangsa.

Bagi generasi muda, mengenal Usmar Ismail bukan sekadar menghafal nama, melainkan memahami dan menghargai karyanya.

Berkat teknologi restorasi digital, film-film klasik seperti Lewat Jam Malam dan Tiga Dara kini dapat dinikmati kembali dengan kualitas gambar yang lebih jernih.

Menontonnya adalah cara terbaik untuk “berziarah” ke dalam pemikiran sang maestro—dan merayakan lahirnya film Indonesia.***

Halaman:

Tags

Terkini