edukasi

Mengenang Sultan Muhammad Salahuddin, Pahlawan Nasional Asal Bima Pengusir Penjajah

Senin, 10 November 2025 | 13:23 WIB
Sultan Muhammad Salahuddin dari Bima (berbagai sumber)

Ketika Perang Dunia II pecah, Jepang mendulang kemenangan demi kemenangan di Asia Tenggara.

Pada 9 Maret 1942, Jenderal Ter Poorten, Panglima Angkatan Darat Belanda di Jawa, menyerah tanpa syarat kepada Jepang.

Sejak itu, secara de jure Indonesia—termasuk Kesultanan Bima—menjadi wilayah kekuasaan Jepang, meski mereka baru tiba di Bima pada 17 Juli 1942.

Kekalahan Belanda itu justru membangkitkan semangat para pemuda Bima.

Tokoh-tokoh seperti Mahmud Kashmir, Amin Daeng Emo, Muhammad Abdul Wahab, dan Abdul Aziz Ruma Parenta membentuk panitia aksi untuk menyerang dan menangkap orang-orang Belanda yang masih bertahan.

Situasi semakin memanas ketika dua pilot Belanda mendarat di Bima pada 30 Maret 1942 dan menembaki kapal rakyat tanpa alasan.

Peristiwa itu memicu kemarahan besar. Pada 5 April 1942, para pemuda bersama anggota KNIL dan polisi yang simpati pada rakyat menyerang pos-pos Belanda.

Dipimpin Aritonang dan Muhammad Kashmir, mereka berhasil menguasai pemancar radio, sentral telepon, dan tangsi polisi.

Sejak hari itu, kekuasaan Belanda di Bima resmi berakhir, dan pemerintahan pun kembali berada di tangan Sultan Salahuddin.

Namun, Belanda yang melarikan diri ke Lombok Timur dan Sumbawa Besar segera menyusun kekuatan balasan.

Berkat informasi rahasia dari dua kurir Kesultanan, Hakim Hantabi dan Soewondo, Sultan Salahuddin segera mengatur strategi pertahanan.

Pada 30 April 1942, laskar Kesultanan Bima yang dipimpin Aritonang bertempur sengit di Jambata Kampaja, Desa Sori Utu.

Meski bersenjata sederhana, para pejuang Bima berhasil memukul mundur pasukan Belanda hingga melarikan diri ke Sumbawa Besar.

Saudara Tua yang Beracun

Kedatangan Jepang pada tahun 1942 awalnya disambut penuh harapan. Kolonel Saito, pemimpin pasukan Jepang, datang dengan senyum ramah.

Halaman:

Tags

Terkini