edukasi

Tradisi Antar Ajung: Budaya Larung Sesaji Perahu Kecil dari Sambas

Minggu, 7 September 2025 | 21:40 WIB
Festival Antar Ajung di Sambas (Youtube)

KLIK SAJA - Tradisi Antar Ajung merupakan salah satu budaya tradisional yang masih dilestarikan di Kabupaten Sambas, khususnya di Kecamatan Paloh.

Tradisi unik ini berbentuk pelayaran perahu kecil ke laut lepas yang berisi sesajen, dipersembahkan sebagai bekal bagi roh jahat yang telah ditangkap melalui serangkaian ritual.

Pada mulanya, Antar Ajung diyakini lahir sebagai bentuk hubungan rakyat dengan Kerajaan Majapahit.

Dimana pada jaman pemerintahan Majapahit menguasai Nusantara, perahu-perahu itu digunakan untuk mengirim upeti berupa hasil bumi.

Namun, ketika Kesultanan Sambas berdiri, kewajiban membayar upeti dihapuskan. Meski begitu, tradisi Antar Ajung tetap dijalankan karena dianggap sebagai amanah leluhur yang tidak boleh ditinggalkan.

Seiring perjalanan waktu, makna Antar Ajung pun bergeser. Dari yang semula berkaitan dengan upeti kerajaan, ia berubah menjadi ritual tolak bala.

Baca Juga: Mengenal Ojhung, Budaya Duel ala Madura yang Mirip Kendo Jepang

 Tradisi ini dipercaya dapat melindungi masyarakat dari berbagai mara bahaya, seperti wabah penyakit pada manusia dan ternak, hama tanaman, hingga bencana alam.

Selain itu, pelaksanaannya juga menandai dimulainya masa bercocok tanam padi.

Pengaruh ajaran animisme dan dinamisme pada masa Majapahit masih membekas di masyarakat Sambas, bahkan setelah Islam masuk dan menjadi agama mayoritas.

Itulah sebabnya, meskipun beragama Islam, sebagian masyarakat masih menjaga dan menghidupkan tradisi ini sebagai bagian dari identitas budaya.

Antar Ajung dilaksanakan setahun sekali, biasanya pada bulan Agustus.

Pusat kegiatan berada di Kecamatan Paloh, tetapi wilayah lain seperti Tebas, Teluk Keramat, dan Tangaran juga turut serta.

Karena berkaitan dengan laut, daerah yang tidak memiliki garis pantai harus mengantarkan perahu ajung mereka ke Paloh agar bisa dilepas bersama-sama.

Halaman:

Tags

Terkini