Tradisi ini tidak sekadar melepas perahu ke laut. Ada tahapan ritual panjang yang harus dilakukan.
Pertama, pawang bersama asistennya, yang disebut peradi, memanggil roh baik penguasa alam gaib setempat.
Prosesi ini diiringi lantunan syair dan tabuhan gendang, gong, serta rebana, sementara di hadapan pawang diletakkan sebuah tong berisi air bercampur bunga.
Setelah itu dilakukan ritual besiak, yaitu penangkapan roh-roh jahat yang diyakini membawa wabah penyakit, hama tanaman, maupun penyakit pada manusia dan hewan. Roh-roh jahat itu kemudian dimasukkan ke dalam ajung.
Keesokan harinya, sebelum ajung dilepas, pawang lebih dulu melantunkan doa dan azan. Pelepasan dilakukan serentak oleh para pemilik ajung, yang mewakili tiap kecamatan atau kelompok.
Ajung kemudian didorong ke tengah laut, melawan ombak, hingga dianggap cukup jauh dan aman untuk berlayar sendiri.
Makna pelayaran ini sangat simbolis. Bila ajung sulit bergerak atau tersendat saat dilepas, masyarakat percaya roh jahat di dalamnya menolak pergi, yang berarti musim tanam akan terganggu.
Sebaliknya, jika ajung melaju mulus tanpa hambatan, itu menjadi pertanda baik bahwa masa tanam akan berhasil, panen melimpah, dan masyarakat terbebas dari wabah maupun bencana.
Setelah prosesi selesai, ada satu pantangan yang harus ditaati: sehari setelah pelepasan ajung, masyarakat dilarang menyembelih hewan apa pun.
Jika aturan ini dilanggar, maka sebagai konsekuensinya, warga harus membuat seratus ketupat—tidak boleh kurang atau lebih—dan menghantarkannya ke laut di lokasi pelepasan ajung.
Dengan segala nilai simbolisnya, Antar Ajung bukan sekadar ritual, melainkan wujud kearifan lokal masyarakat Sambas dalam menjaga keseimbangan hidup dengan alam sekaligus menghormati warisan leluhur.***