edukasi

Pela Gandong: Perekat Perdamaian Masyarakat Maluku yang Majemuk

Sabtu, 6 September 2025 | 01:16 WIB
Perjanjian Pela Gandong di Ambon (antara)

Tidak ada catatan pasti kapan Pela Gandong pertama kali muncul. Namun, masyarakat Ambon meyakini bahwa tradisi ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu, jauh sebelum bangsa Barat datang.

Perjanjian Pela Gandong biasanya ditandai dengan upacara sumpah.

Dalam ritual ini, para pemimpin negeri meminum minuman tradisional sejenis tuak yaitu soppi yang dicampur dengan darah mereka sendiri, sementara senjata dan alat tajam dicelupkan terlebih dahulu ke dalam minuman tersebut.

Ritual sakral ini menjadi simbol persaudaraan yang tidak bisa diputuskan.

Aturan dalam Pela Gandong

Ikatan Pela Gandong bukan hanya simbol, tetapi juga memiliki aturan yang wajib dipatuhi, antara lain:

  1. Negeri-negeri yang ber-Pela wajib saling membantu saat krisis, misalnya ketika terjadi perang atau bencana alam.
  2. Mereka juga harus mendukung pembangunan fasilitas penting, seperti sekolah, masjid, atau gereja, jika diminta oleh negeri Pela-nya.
  3. Jika warga dari negeri Pela berkunjung, mereka harus disambut dengan jamuan makan.
  4. Dilarang keras menikah dengan sesama anggota negeri Pela, karena mereka dianggap bersaudara sedarah.

Hari ini, Pela Gandong bukan sekadar tradisi adat, melainkan pilar perdamaian di Maluku. Dari ikatan ini, lahirlah rasa persaudaraan yang kuat, yang berhasil menyatukan masyarakat meski berbeda agama maupun latar belakang.

Pela Gandong menjadi bukti nyata bahwa kearifan lokal dapat menjadi benteng perdamaian, bahkan setelah melewati masa kelam konflik.

Inilah warisan budaya yang tidak hanya menjaga harmoni Maluku, tetapi juga memberi inspirasi bagi Indonesia dalam merawat persatuan di tengah keberagaman.***

Halaman:

Tags

Terkini