Seiring waktu, fungsi Gordang Sambilan berkembang, tidak lagi terbatas pada ritual adat. Kini, ia juga hadir dalam berbagai acara tradisional, seperti Orja Godang Markaroan Boru (upacara pernikahan adat Mandailing) dan Orja Mambulungi (upacara kematian)
Namun, penggunaannya tetap membutuhkan izin dari tokoh adat seperti Namora Natoras dan Raja.
Gordang Sambilan dalam Seni Tari
Selain upacara adat, Gordang Sambilan juga kerap mengiringi Tari Sarama. Uniknya, dalam pertunjukan ini, penari (Penyarama) dipercaya bisa mengalami kesurupan karena dimasuki roh leluhur, sehingga tarian terasa lebih magis dan sarat makna spiritual.
Kini, Gordang Sambilan tidak hanya dilihat sebagai alat musik tradisional, tetapi juga sebagai simbol identitas masyarakat Mandailing.
Ia menyatukan nilai seni, budaya, dan spiritual dalam satu harmoni yang unik, sekaligus menjadi bukti kekayaan warisan leluhur yang patut dijaga dan dilestarikan.***