Mengenal Gordang Sambilan, Alat Musik Bedug Khas Batak Mandailing yang Beraura Sakral

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Kamis, 4 September 2025 | 16:20 WIB
Pemuda Batak Mandailing mainkan Gordang Sambilan (youtube)
Pemuda Batak Mandailing mainkan Gordang Sambilan (youtube)

KLIK SAJA - Jika kita berkesempatan berkunjung ke Sumatra Utara, khususnya ke daerah Mandailing Natal, ada satu alat musik khas yang tak boleh dilewatkan: Gordang Sambilan.

Alat musik tradisional ini bukan hanya sekadar hiburan, melainkan juga memiliki nilai sejarah, budaya, bahkan spiritual yang mendalam bagi masyarakat Batak Mandailing.

Asal Usul Gordang Sambilan

Gordang Sambilan diyakini sudah ada sejak ratusan tahun lalu, tepatnya sekitar tahun 1475, pada masa Kerajaan Nasution di bawah pimpinan Raja Sibaroar.

Awalnya, alat musik ini digunakan dalam pesta pernikahan, hiburan rakyat, hingga upacara adat yang sarat dengan nilai sakral.

Secara bahasa, gordang berarti gendang atau bedug, sedangkan sambilan berarti sembilan. Sesuai namanya, Gordang Sambilan terdiri dari sembilan buah gendang berukuran besar dengan panjang yang berbeda-beda.

Struktur dan Nada Gordang Sambilan

Kesembilan gendang dalam Gordang Sambilan memiliki nama serta fungsi nada masing-masing:

  • Gendang 1 & 2: menghasilkan nada taba-taba
  • Gendang 3: menghasilkan nada tepe-tepe
  • Gendang 4: menghasilkan nada kudong-kudong
  • Gendang 5 & 6: menghasilkan nada kudong-kudong nabalik dan pasilion
  • Gendang 7, 8 & 9: menghasilkan nada jangat

Biasanya, Gordang Sambilan dimainkan oleh enam orang sekaligus, dipimpin oleh seorang Panjangati, yaitu pemain utama yang mengatur ritme dengan memainkan gendang terbesar (jangat).

Baca Juga: Mengenal Malam Bakupas, Cara Orang Minahasa Menghargai Rempah-Rempah dan Perekat Tali Silaturahmi

Fungsi Sakral dalam Upacara Adat

Sebelum Islam masuk ke Mandailing, masyarakat setempat masih memegang teguh kepercayaan kepada roh nenek moyang.

Gordang Sambilan pun menjadi bagian penting dalam upacara adat, di antaranya Paturuan Sibaso, yaitu Ritual pemanggilan roh leluhur untuk merasuki seorang medium bernama sibaso. Biasanya dilakukan saat masyarakat menghadapi wabah atau bencana.

Kemudian digunakan pada Mangido Udan, yaitu upacara adat untuk memohon hujan berhenti ketika banjir melanda dan merusak hasil panen.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Tags

Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

X