Upaya ini penting bukan hanya untuk menghormati jasa-jasanya, tetapi juga untuk menghidupkan kembali semangat kepahlawanan di kalangan generasi muda.
Pengakuan tersebut diharapkan menjadi pengingat bahwa tokoh lokal pun memiliki peran besar dalam perjuangan bangsa.
Walau telah tiada, nama Mari Longa tetap harum. Ia dikenang melalui nama jalan di Kota Ende, lagu-lagu perjuangan, hingga patung-patung yang menggambarkan sosoknya. Semangat pantang menyerahnya terus hidup dalam semboyan masyarakat Lio:
“Topo doga, ae bere iwa sele” — tanpa menyerah dan tak kenal lelah.
Kisah Mari Longa membuktikan bahwa kekuatan sejati lahir dari keberanian melawan ketidakadilan, kepedulian terhadap sesama, dan cinta tanah air yang tak tergoyahkan.
Ia bukan hanya milik masyarakat Lio, melainkan juga bagian dari memori sejarah besar bangsa Indonesia.***