KLIK SAJA – Tak dinyana, sejarah kutang sebagai bagian dari busana perempuan Indonesia memiliki perjalanan yang unik dan menarik.
Salah satu jenis kutang yang pernah begitu populer dan legendaris adalah Kutang Suroso, pakaian dalam khas yang sempat menjadi pilihan utama para wanita pribumi pada abad ke-20.
Kutang ini dikenal karena desainnya yang sederhana namun nyaman, serta erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari perempuan Indonesia tempo dulu.
Sebelum abad ke-20, perempuan pribumi di Nusantara sebagian besar belum mengenakan penutup dada.
Bahkan hingga awal abad ke-19, pemandangan perempuan tanpa busana atas masih dianggap hal biasa. Kondisi ini terekam dalam berbagai catatan sejarah maupun karya sastra Indonesia.
Penulis Remy Sylado dalam novel sejarah Pangeran Diponegoro: Menggagas Ratu Adil menggambarkan situasi ini, terutama pada masa pembangunan jalan Anyer–Panarukan yang diprakarsai Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels.
Dimana banyak pekerja perempuan yang tidak mengenakan pelindung dada akhirnya mengalami perlakuan tidak pantas.
Melihat kondisi tersebut, seorang bawahan Daendels bernama Lopez comte de Paris merasa prihatin.
Ia lantas mendorong para wanita pribumi untuk menutup bagian tubuhnya.
Sejak saat itu, para perempuan mulai menggunakan sobekan kain putih untuk menutupi dada mereka. Inilah cikal bakal busana yang kemudian disebut “kutang”.
Lahirnya Kutang Suroso
Memasuki masa kemerdekaan, penggunaan kutang semakin meluas. Pada era inilah muncul produk Kutang Suroso, bentuk evolusi pertama dari kutang di Indonesia.
Pakaian dalam ini diciptakan oleh seorang tokoh bernama Bapak Suroso sekitar tahun 1960-an. Ciptaannya dengan cepat populer, terutama di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Industri Kutang Suroso berkembang pesat, salah satunya di Juwiring, Klaten, Jawa Tengah, yang menjadi sentra produksi.