Dari daerah inilah Kutang Suroso didistribusikan ke berbagai kota di Pulau Jawa dan menjadi bagian penting dari keseharian perempuan Indonesia pada masa itu.
Desain dan Keunikan Kutang Suroso
Kutang Suroso memiliki desain khas yang membedakannya dari bra modern. Bentuknya menyerupai silinder atau tabung dengan bahan dasar sederhana, bahkan konon ada yang menggunakan serat alami seperti kulit kayu.
Modelnya menutup tubuh dengan fleksibel, mulai dari bawah ketiak hingga sepanjang yang diinginkan pemakai.
Keunikan utama Kutang Suroso terletak pada kancing atau pengait yang berada di bagian depan, berbeda dengan bra modern yang umumnya dikaitkan di belakang.
Desain cerdas ini dibuat untuk memudahkan pemakaian, terutama bagi perempuan lanjut usia yang kesulitan menjangkau punggung.
Selain kenyamanan, kutang ini juga memiliki nilai estetika. Bagian atasnya memiliki belahan dada rendah, sementara bagian bawahnya lebih panjang dibandingkan bra masa kini.
Dengan desain seperti itu, Kutang Suroso tidak hanya berfungsi sebagai pelindung, tetapi juga memberi sentuhan sensual pada penampilan penggunanya.
Meski kini Kutang Suroso sudah jarang ditemui, pakaian ini tetap memiliki tempat dalam memori kolektif budaya Indonesia.
Hingga era 1990-an, banyak perempuan lanjut usia masih setia mengenakannya, menjadikan Kutang Suroso sebagai simbol nostalgia dan ikon busana wanita Indonesia tempo dulu.
Kutang Suroso bukan sekadar pakaian dalam, tetapi juga saksi sejarah perjalanan busana Nusantara.
Ia menggambarkan bagaimana masyarakat Indonesia beradaptasi dengan perubahan zaman, menjaga kesopanan, sekaligus melahirkan karya khas yang kini menjadi bagian penting dari warisan budaya bangsa.***