edukasi

Mengenal Naskah Pecenongan; Kekayaan Budaya Literasi Indonesia Abad 19 Karya Muhammad Bakir

Rabu, 30 April 2025 | 23:50 WIB
Naskah Pecenongan (Indonesia Kaya)

KLIK SAJA – Indonesia memiliki kekayaan budaya literasi yang luar biasa, salah satunya berupa warisan manuskrip lawas.

Kekayaan ini patut disyukuri karena tidak semua negara memiliki jejak sejarah tertulis yang mendalam tentang masa lalunya.

Tak hanya dari segi jumlah, manuskrip-manuskrip Indonesia juga kaya secara linguistik dan aksara, mencerminkan keberagaman budaya yang mengakar sejak dahulu.

Salah satu contoh warisan berharga tersebut adalah Naskah Pecenongan, karya Muhammad Bakir yang berasal dari abad ke-19.

Naskah ini kini tersimpan rapi di Perpustakaan Nasional. Namun, sebagian besar manuskrip klasik Betawi lainnya justru tersebar di luar negeri, seperti di Leiden (Belanda) dan Saint Petersburg (Rusia), termasuk karya-karya dari Sapian bin Usman, Sapirin bin Usman, hingga Ahmad Baramka.

Muhammad Bakir merupakan tokoh penting dalam masa peralihan dari sastra klasik ke sastra modern Indonesia.

Ia tinggal dan tumbuh besar di kawasan Pecenongan, Jakarta, dan dikenal sebagai guru agama yang mengajarkan anak-anak membaca Al-Qur’an serta dasar-dasar Islam di sebuah langgar (surau).

Tak mengherankan bila karya-karyanya sarat dengan pesan moral dan nilai-nilai religius yang berakar dari ajaran Islam.

Mayoritas karya Bakir ditulis dalam bentuk hikayat, sebuah genre sastra klasik yang banyak mengandung unsur fantasi.

Berdasarkan temanya, naskah-naskahnya dapat diklasifikasikan ke dalam lima kategori utama: cerita petualangan, cerita wayang, cerita panji, cerita Islam, dan syair simbolik.

Menariknya, seluruh Naskah Pecenongan ditulis tangan dalam bahasa Melayu dengan aksara Jawi di atas kertas Eropa berukuran sekitar 32 × 20 cm.

Keunikan lainnya, tiap naskah menampilkan gaya tulisan tangan yang berbeda-beda, bahkan dalam satu judul sekalipun.

Ilustrasi penuh warna turut memperindah isi naskah, serta disertai dengan tiga penanda waktu: tahun Hijriah, Masehi, dan kadang tahun Jawa.

Kawasan Betawi yang dikenal sebagai titik pertemuan berbagai etnis turut memberikan warna dalam karya sastra klasik Betawi.

Halaman:

Tags

Terkini