Pengaruh Arab tampak jelas dalam penggunaan aksara, sementara gaya ilustrasinya lebih bercorak Tiongkok.
Muhammad Bakir sendiri, meski berakar pada tradisi sastra klasik, juga menampilkan semangat modernitas dalam beberapa karyanya—dengan memasukkan unsur rasionalisme, realisme, dan pertentangan nilai-nilai sosial yang sedang berkembang.
Karya-karya seperti Naskah Pecenongan bukan hanya dokumen sejarah, tetapi juga cermin peradaban dan identitas bangsa yang perlu terus dijaga dan dipelajari.
Indonesia, sekali lagi, patut berbangga memiliki warisan intelektual dan kultural yang begitu kaya dan mendalam.
Hal ini menunjukkan bahwa budaya literasi bangsa Indonesia sudah ada semenjak dahulu dan terus berkembang.***