KLIK SAJA - Syekh Nawawi al-Bantani, seorang ulama besar asal Banten, Indonesia, adalah sosok yang tidak hanya dikenal sebagai ahli agama bertaraf internasional, tetapi juga sebagai pencetus semangat nasionalisme di kalangan muslim Nusantara pada abad ke-19.
Beliau lahir di Tanara, Serang, sekitar tahun 1813 Masehi, Syekh Nawawi telah meninggalkan warisan keilmuan dan perjuangan yang hingga kini masih dikenang dan dihormati oleh ulama Nusantara serta dunia.
Ia dikenal sebagai ulama besar yang rajin menulis kitab, tercatat 115 kitab yang hingga kini masih digunakan referensi para cendekiawan muslim.
Masa Kecil dan Pendidikan
Semenjak kecil, Syekh Nawawi telah menunjukkan ketertarikan yang besar terhadap ilmu agama.
Pada usia lima tahun, ia mulai belajar langsung dari ayahnya, Syekh Umar bin Arabi al-Bantani, seorang ulama lokal di Banten.
Baca Juga: Mengenal Abdul Qodir Jaelani, Sang Sufi Paling Dihormati dalam Dunia Tasawuf
Bersama saudara-saudaranya, ia mempelajari dasar-dasar bahasa Arab, fiqih, tauhid, al-Quran, dan tafsir. Pada usia delapan tahun, ia dan kedua adiknya, Tamim dan Ahmad, berguru kepada K.H. Sahal, ulama terkenal di Banten saat itu.
Kemudian, ia melanjutkan pendidikannya kepada Syekh Baing Yusuf di Purwakarta.
Di usia yang belum genap lima belas tahun, Syekh Nawawi sudah mulai mengajar banyak orang.
Pada usia lima belas tahun, ia menunaikan ibadah haji dan kemudian berguru kepada sejumlah ulama masyhur di Mekkah.
Perjuangan Melawan Penjajahan
Setelah tiga tahun bermukim di Mekkah, Syekh Nawawi kembali ke Banten sekitar tahun 1828 Masehi.
Di tanah air, ia menyaksikan praktik-praktik ketidakadilan dan penindasan yang dilakukan pemerintah Hindia Belanda terhadap rakyat.