Menelusuri Sejarah Bajak Laut Biak Numfor di Masa Lalu, Viking Van Papua yang Ditakuti VOC

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Rabu, 17 Juni 2026 | 22:07 WIB
Ilustrasi Bajak Laut asal Papua pada zaman VOC (gemini)
Ilustrasi Bajak Laut asal Papua pada zaman VOC (gemini)

Dalam berbagai catatan kolonial disebutkan bahwa para pelaut ini juga kerap menyandera penumpang, termasuk perempuan, dari kapal-kapal yang mereka serang.

Reputasi itulah yang membuat nama mereka begitu ditakuti di jalur perdagangan Maluku dan Papua.

Selain dikenal ganas, para pelaut Papua juga memiliki karakter pantang menyerah. Mereka bertempur dengan keberanian yang membuat lawan segan.

Semangat ini sering dibandingkan dengan para De Maccasarese Rovers atau “Bajak Laut Makassar”, kelompok pelaut lain yang juga pernah menjadi mimpi buruk VOC.

Jika bangsa Viking di Eropa dikenal melalui kapal longship yang perkasa, maka pelaut Papua mengandalkan perahu-perahu tradisional yang ringan, gesit, dan mampu melintasi lautan lepas.

Dengan teknologi sederhana, mereka mampu menjelajah wilayah yang sangat luas, menghubungkan pulau-pulau di kawasan timur Nusantara hingga Pasifik.

Legenda Raja Ampat

Di tengah sejarah maritim Papua, terdapat kisah yang masih hidup dalam ingatan masyarakat Raja Ampat. Cerita itu berkisah tentang Sekfamneri, seorang tokoh legendaris dari Pulau Waigeo.

Dalam tradisi lisan setempat, Sekfamneri digambarkan sebagai pemimpin yang sakti dan karismatik.

Ia bukan hanya pelaut ulung yang mampu membaca arah bintang dan memahami bahasa lautan, tetapi juga dipercaya memiliki kemampuan supranatural.

Sosoknya menjadi simbol kejayaan maritim masyarakat Raja Ampat pada masa lampau.

Meski sulit dipisahkan antara fakta dan legenda, kisah Sekfamneri menunjukkan betapa kuatnya identitas kemaritiman dalam budaya masyarakat Papua pesisir.

Di balik label “bajak laut” yang diberikan Belanda, terdapat sisi lain yang sering terlupakan. Para pelaut Papua ternyata memainkan peran penting dalam salah satu perlawanan terbesar terhadap VOC di Indonesia timur, yakni Pemberontakan Nuku (1780–1810).

Sultan Nuku Muhammad Amiruddin, yang kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1995, adalah pewaris sah Kesultanan Tidore.

Namun campur tangan VOC membuat takhta diberikan kepada pihak lain yang lebih mudah dikendalikan Belanda.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X