Mutasi ini membuat gen Arhgap36—yang seharusnya tidak aktif di sel kulit berpigmen—menjadi aktif secara keliru di dalam melanosit, sel penghasil pigmen pada bulu dan kulit.
Mutasi pada gen Arhgap36 mengganggu jalur sinyal cAMP/PKA, sistem molekuler.
Ketika Arhgap36 aktif di tempat yang salah, produksi eumelanin menurun dan tubuh beralih membuat pheomelanin—hasilnya: bulu kucing berwarna oranye.
Karena mutasinya berada di kromosom X, maka Kucing jantan (XY) cukup memiliki satu kromosom X bermutasi untuk menjadi oranye sepenuhnya, sementara Kucing betina tidak bisa demikian. Penelitian Genetik yang Panjang dan Menarik
Penelitian ini dipimpin oleh Christopher Kaelin, yang menghabiskan lebih dari satu dekade meneliti kucing.
Ia mendatangi berbagai pameran kucing untuk mengumpulkan sampel DNA, kemudian membandingkannya dengan arsip genom kucing domestik yang baru lengkap dalam 5–10 tahun terakhir.
Dari analisis tersebut, mereka menemukan 51 variasi genetik yang umum pada kucing oren. Setelah disaring, hanya tiga kandidat tersisa—dan satu mutasi paling mencolok adalah penghapusan di gen Arhgap36 tersebut.
Yang lebih mengejutkan lagi, mutasi ini diperkirakan hanya terjadi sekali dalam sejarah evolusi kucing domestik, lalu menyebar ke seluruh dunia seiring proses perkawinan dan domestikasi.
Kapan Kucing Oren Pertama Kali Muncul?
Kucing diketahui telah hidup berdampingan dengan manusia setidaknya sejak 9.500 tahun lalu, berdasarkan temuan arkeologi berupa kuburan manusia bersama kucing di Siprus.
Namun, warna oranye tampaknya baru muncul jauh setelah itu.
Menurut Kaelin, pola bulu calico—yang merupakan hasil dari mutasi warna oranye—mungkin baru ada sejak abad ke-12.
Ini merujuk pada lukisan di Tiongkok yang menggambarkan kucing dengan kombinasi hitam, putih, dan oranye. Tentu saja, temuan baru di masa depan bisa mengubah perkiraan ini.
Apakah Kucing Oren Memang Lebih Kaotik?
Reputasi kucing oren sebagai makhluk chaotic good rupanya berkaitan dengan fakta bahwa mayoritas dari mereka adalah jantan.