Mereka mencari makan sendiri atau dalam kelompok kecil, dan biasanya membuat sarang di permukaan tanah atau di area rumput tinggi yang tersembunyi.
Di Jepang, masyarakat percaya bahwa Green Pheasant memiliki kepekaan terhadap gempa bumi.
Burung ini konon akan berteriak keras sesaat sebelum getaran terasa, seolah memberi tanda bahaya kepada manusia di sekitarnya.
Makna Budaya dan Legenda
Green Pheasant memiliki tempat istimewa dalam mitologi dan kisah rakyat Jepang. Dalam legenda kuno, dewi matahari Amaterasu dikisahkan menggunakan burung ini sebagai utusan.
Green Pheasant juga muncul dalam kisah terkenal Momotarō, sang pahlawan dari buah persik, sebagai salah satu hewan pendampingnya.
Cara induk betina menggiring anak-anaknya dianggap sebagai simbol keharmonisan dan kasih sayang keluarga, nilai yang sangat dijunjung tinggi dalam budaya Jepang.
Karena itulah, burung ini dipilih sebagai burung nasional Jepang, bahkan pernah tampil dalam desain uang kertas 10.000 yen.
Status dan Perlindungan
Green Pheasant bukan termasuk spesies yang terancam punah. Berdasarkan penilaian IUCN terakhir pada Oktober 2016, statusnya dikategorikan sebagai “Least Concern” atau berisiko rendah terhadap kepunahan.
Populasinya tersebar luas di seluruh Jepang dan telah berhasil diperkenalkan di Hawaii.
Meskipun berstatus burung nasional, perburuan Green Pheasant tetap diperbolehkan secara legal di Jepang, dengan pengaturan tertentu.
Selain itu, spesies ini juga dibudidayakan sebagai hewan ternak konsumsi, mirip dengan ayam, karena dagingnya dianggap lezat dan bernilai tinggi.
Green Pheasant bukan hanya burung indah dengan bulu berkilau kehijauan, tetapi juga simbol budaya dan spiritual bangsa Jepang.
Keanggunannya, kepekaannya terhadap bencana alam, serta kehadirannya dalam mitologi menjadikannya lebih dari sekadar satwa — ia adalah cerminan keindahan dan harmoni yang melekat dalam jiwa masyarakat Jepang.***