Mengenal Ponpes Jamsaren, Jejak Panjang Pesantren Tertua di Indonesia

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Minggu, 14 September 2025 | 22:30 WIB
Ponpes Jamsaren di Kota Solo (Ponpes Jamsaren)
Ponpes Jamsaren di Kota Solo (Ponpes Jamsaren)

Kebangkitan Kembali

Setengah abad kemudian, seorang kiai keturunan pembantu Pangeran Diponegoro, KH. Idris, membangun kembali surau yang kemudian berkembang menjadi Pesantren Jamsaren.

Ia memperluas bangunan pondok serta menghidupkan kembali aktivitas belajar-mengajar dengan menggunakan kitab-kitab berbahasa Arab yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa pegon.

Metode pengajian yang digunakan adalah sorogan—santri maju satu per satu—dan juga bandongan atau kelompok.

Kehidupan para kiai dan santri berjalan mandiri: para kiai tidak digaji pemerintah, sementara santri membawa bekal sendiri dari rumah, memasak, dan mencuci tanpa adanya pungutan iuran.

Seiring perkembangan zaman, pada 1913, metode sorogan diganti dengan sistem kelas dengan bimbingan qori atau mu’allim.

Pada periode yang sama, PB X mendirikan Madrasah Mambaul Ulum di selatan Masjid Agung Surakarta.

KH Idris dipercaya sebagai Wedana Guru di madrasah tersebut.

Santri Jamsaren pun bersekolah di Mambaul Ulum pada pagi hari, lalu kembali ke pesantren untuk mengaji hingga malam.

Setelah KH. Idris wafat pada 1923 (dimakamkan di Pajang, Makam Haji), kepemimpinan Ponpes Jamsaren dilanjutkan oleh KH. Abu Amar (Kiai Jamsari/Kiai Ngabei Projowijoto).

Ketika beliau wafat pada 1965, kepemimpinan pesantren diteruskan oleh putranya, termasuk KH. Ali Darokah yang pernah menjabat sebagai ketua.

Lahirkan Tokoh Besar

Sepanjang sejarahnya, Ponpes Jamsaren melahirkan banyak tokoh besar. Di antaranya adalah Munawir Sjadzali (mantan Menteri Agama RI) dan Miftah Farid (Ketua MUI Jawa Barat).

Kini, Pesantren Jamsaren menjalin kerja sama dengan Yayasan Perguruan Al-Islam Surakarta untuk memperkuat kiprahnya di bidang pendidikan Islam modern.

Dengan sejarah panjangnya, Ponpes Jamsaren tidak hanya menjadi saksi perjalanan dakwah Islam di tanah Jawa, tetapi juga simbol ketahanan pesantren dalam menghadapi tantangan zaman, dari masa penjajahan hingga era modern.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X