Alasan Mengapa Warna Merah Identik dengan Budaya Tiongkok

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Selasa, 2 September 2025 | 21:50 WIB
Lampion merah khas Tiongkok di daerah Pecinan (adobe stock)
Lampion merah khas Tiongkok di daerah Pecinan (adobe stock)

Namun, Nian ternyata memiliki kelemahan: ia takut pada suara bising, cahaya terang, dan warna merah.

Dari situlah tradisi memasang lampion merah, menyalakan petasan, hingga pertunjukan barongsai lahir. Semua itu bertujuan untuk mengusir Nian. Hingga kini, tradisi tersebut masih dijaga dan menjadi bagian penting perayaan Imlek.

Merah: Simbol Semangat dan Kekuatan

Selain kebahagiaan dan keberuntungan, merah juga merepresentasikan semangat hidup. Warna ini dikaitkan dengan elemen api dalam filosofi Tiongkok, salah satu dari lima elemen utama selain air, kayu, logam, dan tanah.

Api melambangkan energi perubahan, kekuatan, serta kehidupan.

Sifat api yang mampu mengubah apa pun yang disentuhnya dipandang sebagai simbol semangat membara dan harapan akan transformasi yang lebih baik.

Tak hanya itu, merah juga memiliki sejarah panjang dalam ritual kekaisaran Tiongkok.

Para kaisar di era Dinasti Zhou, Jin, Han, Ming, hingga Song, sering meminta saran peramal istana untuk menentukan warna pembawa kemakmuran.

Hasilnya hampir selalu sama: merah dipercaya sebagai warna terbaik untuk mendatangkan energi positif. Maka, merah pun menjadi warna kerajaan yang ikonik.

Setelah memahami makna filosofisnya, tak heran bila merah begitu dominan dalam budaya Tionghoa.

Ia bukan hanya sekadar warna, melainkan simbol kebahagiaan, keberuntungan, kekuatan, dan pelindung dari hal buruk.

Maka, setiap kali Imlek tiba, tak mengherankan jika pusat perbelanjaan, kawasan pecinan, hingga jalanan kota penuh dengan hiasan merah yang meriah.

Warna ini bukan hanya memperindah suasana, tapi juga membawa pesan mendalam: harapan akan hidup yang lebih bahagia, penuh berkah, dan semangat baru.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X