Mengenal Lareh, Sistem Pemerintahan Adat Minangkabau

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Minggu, 31 Agustus 2025 | 15:56 WIB
Prosesi kepemimpinan dalam Lareh Minangkabau (perpustakaan digital budaya Indonesia)
Prosesi kepemimpinan dalam Lareh Minangkabau (perpustakaan digital budaya Indonesia)

Lareh Bodi Caniago: Sistem Demokratis

Sebaliknya, Datuak Parpatiah Nan Sabatang menolak sistem aristokrasi yang dianggapnya rawan melahirkan kesewenang-wenangan.

Ia kemudian mengembangkan Lareh Bodi Caniago, sistem pemerintahan bercorak demokratis: “dari rakyat, untuk rakyat, oleh rakyat”.

Prinsipnya tercermin dalam pepatah:
“Duduak samo randah, tagak samo tinggi”
(duduk sama rendah, berdiri sama tinggi).

Wilayah penganut sistem ini dikenal dengan sebutan Tanjuang Nan Tigo, Lubuak Nan Tigo, meliputi daerah Sungayang, Barulak, Tanjuang Alam, serta Sikarah, Simauang, dan Sipunaidi. Selain itu, juga mencakup daerah Limo Kaum XII dan Sembilan Anak Koto seperti Tabek, Labuah, Parambahan, dan lainnya.

Lareh Nan Panjang dan Lareh Nan Bunta

Selain dua sistem besar tersebut, ada pula Lareh Nan Panjang, yang lahir dari Datuak Bandaro Kayo—anak Maharajo Dirajo, penguasa Kerajaan Pasumayam Koto Batu.

Sistem ini berlandaskan undang-undang Si Mumbang Jatuah, yang terbagi menjadi Sigamak dan Silamo.

Sedangkan Lareh Nan Bunta merupakan bentuk persilangan antara Lareh Koto Piliang dan Lareh Bodi Caniago. Lareh ini dikembangkan oleh Datuak Bandaro Kuniang dengan tiga prinsip utama.

Pertama berprinsip Bapucuak Bulet (berpucuk bulat) artinya keputusan final ada pada petinggi adat.

Kedua, Baurek Tunggang  yang berarti berurat tunggang, memiliki arti bahwa keputusan lahir dari musyawarah matang.

Kemudian yang terakhirm Tan di Langik Rajo di Sandi (jauh di langit raja menjadi sendi) yang bermakna setiap keputusan harus berlandaskan hukum Tuhan.

Sistem lareh Minangkabau bukan sekadar aturan adat, tetapi cerminan pemikiran filosofis para leluhur tentang tata kelola masyarakat.

Ada yang menekankan hierarki dan keteraturan, ada pula yang mengedepankan kesetaraan dan demokrasi.

Hingga kini, kedua corak itu masih hidup berdampingan dalam praktik sosial masyarakat Minangkabau, menjadi bukti betapa kaya dan bijaknya kearifan lokal mereka.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X