Perempuan biasanya memotong jarinya dengan cara menggigit hingga putus, atau menggunakan kapak maupun pisau.
Untuk menghentikan pendarahan, jari diikat dengan benang hingga mati rasa sebelum dipotong, lalu luka dibalut dengan daun hingga sembuh dalam waktu sekitar sebulan.
Jumlah ruas jari yang dipotong menunjukkan kedekatan dengan orang yang meninggal. Jika orang tua yang wafat, biasanya dua ruas jari yang dipotong.
Sedangkan untuk saudara, cukup satu ruas saja. Sebelum pemotongan, biasanya diiringi dengan pembacaan mantra.
Sementara itu, kaum pria memiliki cara berbeda untuk mengekspresikan duka, yaitu dengan memotong daun telinga menggunakan bilah bambu tajam.
Tradisi ini dikenal dengan nama Nasu Palek.
Selain itu, ada pula ritual mandi lumpur yang melambangkan filosofi bahwa setiap manusia pada akhirnya akan kembali ke tanah.
Kini, tradisi Iki Palek sudah sangat jarang dilakukan, meski masih dapat ditemui jejaknya.
Sementara itu Pemerintah Daerah Papua sudah melarang tradisi ini, walau demikian masih ada beberapa kelompok Suku Dani yang masih melakukannya.***