Dorongan tersebut diduga sebagai mekanisme alami untuk menurunkan risiko kematian bayi.
Dalam komunitas miskin atau wilayah dengan kondisi sosial-ekonomi yang homogen, kebiasaan ini bisa menjadi bentuk adaptasi lintas generasi—membantu meningkatkan peluang keberhasilan kehamilan dan kelangsungan hidup.
Walau meski memiliki sisi adaptif, geofagia juga menyimpan risiko besar bagi manusia.
Seperti Infeksi cacing (helminthiasis) atau Cacingan dimana Telur cacing, seperti Ascaris, dapat bertahan hidup di tanah selama bertahun-tahun dan menular melalui konsumsi tanah yang terkontaminasi tinja manusia atau hewan.
Kemudian efek samping memakan tanah adalah Tetanus, Bakteri Clostridium tetani yang hidup di tanah dapat menimbulkan risiko tambahan.
Risiko lainnya yaitu Keracunan logam berat: Konsumsi tanah yang tercemar timbal atau kandungan seng berlebih bisa memicu keracunan serius.
Bahkan Geofagia pada ibu hamil (gestational geophagia) dilaporkan dapat menimbulkan gangguan homeostasis dan kerusakan oksidatif, seperti yang terbukti dalam penelitian pada tikus.
Geofagia adalah fenomena kompleks yang terjadi lintas spesies, dari hewan hingga manusia.
Meski dapat memberikan manfaat tertentu, terutama terkait kebutuhan mineral dan perlindungan tubuh, praktik ini juga membawa risiko kesehatan serius jika tanah yang dikonsumsi terkontaminasi.
Oleh karena itu, geofagia pada manusia perlu dipahami dalam konteks medis, sosial, dan budaya, serta memerlukan perhatian khusus terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan ibu hamil.***