Mengenal Helmintiasis atau Cacingan, Simbol Penyakit Kemiskinan, Kejorokan, Malnutrisi Hingga Pengabaian Sanitasi

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Minggu, 24 Agustus 2025 | 10:26 WIB
ilustrasi penyakit cacingan (kab temanggung)
ilustrasi penyakit cacingan (kab temanggung)

 

KLIK SAJA – Helmintiasis, atau biasa kita kenal dengan Cacingan atau juga disebut infeksi cacing, adalah penyakit makroparasit pada manusia maupun hewan lain, di mana sebagian tubuh terinfeksi oleh cacing parasit yang disebut helminths.

Penyakit Cacingan seharusnya tidak membahayakan bagi masyarakat Indonesia, karena sudah ada vaksinasi dan pengobatan modern, namun hingga kini masih ditemukannya korban meninggal akibat infeksi cacing.

Hal ini menandakan higienitas hingga sanitasi di Indonesia belum memadai untuk menangkal infeksi cacing serta masih banyak masyarakat yang tersentuh vaksinasi.

Ada banyak spesies cacing parasit ini, yang secara umum digolongkan menjadi tiga kelompok: cacing pita (tapeworm), cacing daun (fluke), dan cacing gilig (roundworm).

Cacing tersebut umumnya hidup di saluran pencernaan inangnya, namun dapat pula menembus organ lain dan menimbulkan kerusakan fisiologis.

Dua jenis helmintiasis yang paling penting adalah helmintiasis yang ditularkan melalui tanah dan skistosomiasis, yang termasuk dalam kategori penyakit tropis terabaikan.

Kelompok penyakit ini telah menjadi target program gabungan perusahaan farmasi besar dunia dan organisasi non-pemerintah melalui proyek yang diluncurkan tahun 2012, yaitu London Declaration on Neglected Tropical Diseases, yang bertujuan untuk mengendalikan atau memberantas sejumlah penyakit tropis terabaikan pada tahun 2020.

Helmintiasis diketahui dapat menyebabkan berbagai dampak buruk, seperti gangguan pada hasil kehamilan, keterlambatan perkembangan kognitif, menurunnya performa belajar maupun bekerja, rendahnya perkembangan sosial-ekonomi, hingga kemiskinan.

Penyakit kronis, malnutrisi, dan anemia merupakan contoh lain dari dampak sekunder yang ditimbulkan.

Helmintiasis yang ditularkan melalui tanah diperkirakan menyerang hingga seperempat populasi manusia di dunia. Salah satu contoh paling dikenal adalah askariasis.

Jenis-jenis helmint tertentu dapat diidentifikasi melalui pemeriksaan mikroskopis terhadap telur (ova) yang ditemukan pada sampel feses. Jumlah telur biasanya dihitung dalam satuan “telur per gram”.

Namun, metode ini tidak bisa menghitung infeksi campuran secara akurat, serta kurang tepat dalam mendeteksi telur schistosoma maupun helmint tanah.

Tes yang lebih canggih, seperti uji serologi, tes antigen, dan diagnosis molekuler juga tersedia, tetapi umumnya memakan waktu, mahal, dan tidak selalu memberikan hasil yang konsisten.

Pencegahan dapat dilakukan dengan memutus siklus hidup cacing untuk menghindari infeksi maupun reinfeksi. Upaya ini sangat bergantung pada perbaikan aspek WASH (water, sanitation, hygiene)—air bersih, sanitasi, dan kebersihan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X