Karya Yang Dilarang Terbut Pada Angkatan 70-an Diterbitkan Di Tahun 2000-an, Pada Saat Itu Banyak Muncul Karya Dari Pengarang

photo author
- Rabu, 11 Juni 2025 | 16:14 WIB
Karya Yang Dilarang Terbut Pada Angkatan 70-an Diterbitkan Di Tahun 2000-an, Pada Saat Itu Banyak Muncul Karya Dari Pengarang (Dibuat oleh Vicky Hayden Alzaini dengan menggunakan Meta AI)
Karya Yang Dilarang Terbut Pada Angkatan 70-an Diterbitkan Di Tahun 2000-an, Pada Saat Itu Banyak Muncul Karya Dari Pengarang (Dibuat oleh Vicky Hayden Alzaini dengan menggunakan Meta AI)

KLIK SAJA – Halo para pembaca Klik Saja, artikel berikut ini akan memberikan informasi mengenai kunci jawaban dari pertanyaan ‎Karya Yang Dilarang Terbut Pada Angkatan 70-an Diterbitkan Di Tahun 2000-an, Pada Saat Itu Banyak Muncul Karya Dari Pengarang.

Artikel ini akan membahas kunci jawaban dari mata pelajaran Bahasa Indonesia tingkat SMA/SMK yang tentunya kunci jawaban ini bisa dijadikan referensi dalam pembelajaran.

Maka dari itu, perlu untuk menyimak pembahasan ini hingga akhir agar dapat mengetahui jawaban yang tepat dari pertanyaan Karya Yang Dilarang Terbut Pada Angkatan 70-an Diterbitkan Di Tahun 2000-an, Pada Saat Itu Banyak Muncul Karya Dari Pengarang.

Namun, perlu dicatat bahwa kunci jawaban tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk memperoleh nilai, tetapi juga sebagai bahan pembelajaran yang dapat meningkatkan pemahaman terhadap materi yang diajarkan.

Baca Juga: Dalam Perkembangannya Roman Disamakan Dengan Novel, Padahal Berbeda. Roman Adalah

Soal Lengkap

Karya yang dilarang terbut pada angkatan 70-an diterbitkan di tahun 2000-an, pada saat itu banyak muncul karya dari pengarang....

a) Chairil Anwar
b) H.B. Jassin
c) Ajip Rosidi
d) Amir Hamzah
e) Remy Sylado

Jawaban

Jawaban yang benar, tepat, akurat, dan sah dengan kebenaran 100% untuk pertanyaan “Karya yang dilarang terbit pada angkatan 70-an diterbitkan di tahun 2000-an, pada saat itu banyak muncul karya dari pengarang....” adalah:

e) Remy Sylado

Pada masa Angkatan 70-an, suasana politik di Indonesia berada di bawah kendali ketat pemerintahan Orde Baru yang otoriter. Banyak karya sastra yang bersifat kritis terhadap pemerintah dilarang terbit karena dianggap membahayakan stabilitas nasional atau menyebarkan ideologi yang tidak sejalan dengan penguasa. Pemerintah saat itu menerapkan sistem sensor ketat terhadap media, penerbitan, dan aktivitas kebudayaan, termasuk sastra.

Namun, ketika memasuki era Reformasi di akhir 1990-an dan awal 2000-an, kebebasan berekspresi mulai terbuka kembali. Banyak karya sastra yang sebelumnya disensor atau bahkan dilarang akhirnya diterbitkan dan mendapat ruang di tengah masyarakat. Ini termasuk karya-karya dari pengarang yang pernah aktif atau menulis secara kritis pada masa sebelumnya, termasuk di era 1970-an.

Salah satu nama yang menonjol dan dikenal aktif menerbitkan karyanya kembali di tahun 2000-an adalah Remy Sylado. Ia adalah seorang sastrawan multitalenta yang dikenal sebagai novelis, penyair, dramawan, dan kritikus budaya. Pada era Orde Baru, beberapa karyanya bernuansa kritik sosial dan politik yang tajam, sehingga tidak mudah mendapatkan ruang publikasi secara bebas.

Pada era 2000-an, Remy Sylado kembali bangkit dengan berbagai karya penting, seperti novel-novel historis dan budaya yang sangat berani dan mendalam, seperti Ca-Bau-Kan dan Kerudung Merah Kirmizi. Kedua novel tersebut tidak hanya populer, tetapi juga memperlihatkan kecanggihan naratif dan ketajaman dalam membedah isu-isu sosial, politik, dan identitas nasional.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Vicky Hayden Alzaini

Sumber: Buku Kemdikbud

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X