Tambahan jarak inilah yang membuat periode sinodik lebih panjang dibanding periode sideral.
Pada fase bulan baru, ketika sebagian kecil cahaya Matahari mulai terpantul dan tampak dari Bumi, muncul cahaya tipis yang dikenal sebagai hilal, yang menjadi penentu awal bulan dalam kalender Hijriah.
Panjang tahun dalam kalender Masehi adalah sekitar 365,24 hari, sedangkan tahun lunar dalam kalender Hijriah hanya sekitar 354,36 hari.
Terdapat selisih sekitar 10,88 hari setiap tahunnya. Akibat selisih ini, tanggal-tanggal dalam kalender Hijriah, termasuk 1 Ramadan, setiap tahun akan maju sekitar 10 hingga 11 hari dalam kalender Masehi.
Baca Juga: Marhaban Ya Ramadan, Apa Artinya dan Bagaimana Cara Memaknainya
Dalam rentang waktu tertentu, akumulasi selisih tersebut memungkinkan satu tanggal 1 Ramadan muncul dua kali dalam satu tahun kalender Masehi.
Berdasarkan perhitungan astronomis, hal ini diperkirakan terjadi pada tahun 2030.
Dengan demikian, fenomena Ramadan dua kali dalam satu tahun bukanlah sesuatu yang aneh atau luar biasa, melainkan konsekuensi alamiah dari perbedaan sistem kalender berbasis Matahari dan berbasis Bulan.
Fenomena ini justru menunjukkan betapa teraturnya mekanika langit dan bagaimana hukum-hukum fisika bekerja secara konsisten dalam mengatur pergerakan benda-benda langit.***