Mengenal Konsep Kalender Jawa, Warisan Astronomi Leluhur Nusantara yang Adiluhung

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Minggu, 4 Januari 2026 | 22:50 WIB
ilustrasi kalender Jawa (netral news)
ilustrasi kalender Jawa (netral news)

Dalam peristiwa tersebut, ia mendapat perintah untuk mengganti kalender Saka agar selaras dengan sistem kamariah.

Dari sinilah lahir kalender Jawa—sebuah sistem penanggalan baru yang memadukan unsur Jawa (Saka) dan Islam (Hijriah).

Perbedaan Kalender Jawa dan Kalender Masehi

Kalender Jawa memiliki sejumlah perbedaan mendasar dengan kalender Masehi, di antaranya:

  1. Dasar perhitungan
    • Kalender Jawa: berdasarkan peredaran Bulan mengelilingi Bumi
    • Kalender Masehi: berdasarkan peredaran Bumi mengelilingi Matahari
  2. Selisih tahun
    Kalender Jawa tertinggal sekitar 67 tahun dari kalender Masehi. Sebagai contoh, tahun Jawa 1945 setara dengan tahun Masehi 2012.
  3. Jumlah hari dalam bulan
    • Kalender Jawa: 29 atau 30 hari
    • Kalender Masehi: 30 atau 31 hari (Februari 28 hari)
  4. Jumlah hari dalam setahun
    • Kalender Jawa: 354–355 hari
    • Kalender Masehi: 365–366 hari
  5. Sistem pekan
    • Kalender Jawa mengenal pasaran dengan siklus 5 hari
    • Kalender Masehi menggunakan sistem minggu 7 hari
  6. Pergantian hari
    Dalam kalender Jawa, pergantian hari dimulai sejak petang, sedangkan kalender Masehi dimulai pada pukul 00.00.

Sistem Hari dalam Kalender Jawa

Kalender Jawa mengenal sistem hari yang disebut dina, yang terdiri dari dua siklus:

  1. Siklus Mingguan (7 Hari)

Masyarakat Jawa meyakini bahwa tujuh hari melambangkan tujuh tahap penciptaan alam semesta. Nama dan maknanya adalah:

  • Radite / Minggu: melambangkan meneng (diam)
  • Soma / Senin: melambangkan maju
  • Hanggara / Selasa: melambangkan mundur
  • Buda / Rabu: melambangkan mangiwa (ke kiri)
  • Respati / Kamis: melambangkan manengen (ke kanan)
  • Sukra / Jumat: melambangkan munggah (naik)
  • Tumpak / Sabtu: melambangkan tumurun (turun)
  1. Siklus Pancawara (Pasaran)

Pasaran terdiri dari lima hari, yaitu:

  • Kliwon (Kasih): melambangkan jumeneng (berdiri)
  • Legi (Manis): melambangkan mungkur (ke belakang)
  • Pahing (Jenar): melambangkan madhep (menghadap)
  • Pon (Palguna): melambangkan sare (tidur)
  • Wage (Cemengan): melambangkan lenggah (duduk)

Nama-Nama Bulan dalam Kalender Jawa

Dalam kalender Jawa, bulan disebut sasi. Penamaannya merupakan serapan dari bahasa Arab yang disesuaikan dengan lidah Jawa. Urutannya sebagai berikut:

  1. Sura
  2. Sapar
  3. Mulud
  4. Bakdamulud
  5. Jumadilawal
  6. Jumadilakhir
  7. Rejeb
  8. Ruwah (Arwah, Sabun)
  9. Pasa (Puwasa, Siyam, Ramelan)
  10. Sawal
  11. Dulkangidah (Sela, Apit)
  12. Besar (Dulkahijjah)

Siklus Tahun (Windu)

Satu tahun kalender Jawa berjumlah 354 3/8 hari, sehingga digunakan siklus delapan tahun yang disebut windu. Dalam satu windu terdapat delapan tahun, yaitu:

  • Alip
  • Ehe
  • Jimawal
  • Je
  • Dal
  • Be
  • Wawu
  • Jimakir

Tahun Ehe, Dal, dan Jimakir disebut tahun panjang (taun wuntu) dengan 355 hari. Pada tahun ini, bulan Besar berjumlah 30 hari. Sementara itu, tahun Alip, Jimawal, Je, Be, dan Wawu disebut tahun pendek (taun wastu) dengan 354 hari.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

X