Siklon tropis merupakan bencana alam paling berbahaya kedua setelah gempa bumi.
Siklon tropis dapat memutar air dan menimbulkan gelombang laut yang tinggi.
Di daratan, angin kencang dapat merusak atau menghancurkan kendaraan, bangunan, jembatan dan benda-benda lain, mengubahnya menjadi puing-puing beterbangan yang mematikan.
Secara umum, Indonesia yang terletak tepat di Khatulistiwa, sebenarnya sulit terjadi fenomena Siklon Tropis, maka dari itu bencana yang terjadi di Sumatra merupakan anomali yang jarang terjadi.
Di Indonesia dan Malaysia, Siklon Senyar membawa hujan intensitas tinggi. Sejak awal November 2025, hujan sedang mulai sering turun dengan curah sekitar 50 mm.
Inilah awal terbentuknya Siklon Senyar. Pada 17 November, curah hujan di Sumatra Barat meningkat signifikan hingga mencapai 80 mm, menandakan siklon terus berkembang.
Memasuki akhir pekan ketiga November, curah hujan meningkat ke kategori ekstrem, diperparah oleh kondisi tanah yang jenuh di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS).
Kombinasi hujan lebat dan jenuh air di DAS membuat banjir bandang tak terhindarkan.
Di Malaysia, Siklon Senyar melintas daratan dalam waktu singkat sebelum kembali bergerak ke laut. Akibatnya, pusat siklon berada di lautan sehingga dampaknya sedikit berbeda dibanding di Sumatra.
Di Sumbar, alat pengamatan klimatologi di Kabupaten Agam mencatat curah hujan mencapai 1.300 mm sepanjang November, dipicu oleh angin barat yang memperkuat siklon.
Anomali Cuaca: Ketika Siklon Senyar dan Koto Bersatu
Saat Indonesia dan Malaysia diguncang Siklon Senyar, Filipina dan Thailand dilanda Siklon Koto yang berkembang dari timur Filipina dan bergerak ke Vietnam hingga Thailand.
Kedua siklon ini kemudian bersatu, menciptakan fenomena Fujiwhara Effect, yakni interaksi dua siklon tropis yang berada berdekatan sehingga berputar mengelilingi pusat yang sama atau saling menelan.
Fenomena ini pertama kali diamati oleh ahli meteorologi Jepang, Sakuhei Fujiwhara, pada 1920-an. Setelah bersatu, siklon sempat melemah lalu terbentuk kembali di Laut Cina Selatan.
Para ahli menyebut interaksi ini sebagai anomali cuaca, yang dipercepat oleh perubahan iklim. Pola angin monsun yang biasanya stabil kini menjadi tidak homogen, membuat atmosfer lebih mudah berkembang menjadi badai.