Maka dengan begitu istilah Kawi Awal dalam pembabakan Casparis ini juga sinonim dengan istilah Jawa Kuno Awal.
Jika periode ini diperinci, maka pada kurun itu bisa dibedakan antara bentuk aksara Fase Kuno hingga ditemukannya bentuk standar aksara Kawi Awal.
Hal tersebut bisa kita lihat pada inskripsi yang ditulis di Prasasti Plumpungan, Prasasti Dinoyo, Prasasti Balitung, maupun prasasti-prasasti yang ditulis di sepanjang 910 – 925 M.
Lalu periode ketiga, yaitu aksara Kawi Akhir atau Jawa Kuno Akhir. Berkisar antara 925 – 1250 M.
Baca Juga: Mengenal Desa Wisata Gunungsari, Pelopor Desa Berbasis Digital di Indonesia
Fase ini meliputi inskripsi di sepanjang era awal kerajaan Medhangkamulan di Jawa Timur (910 – 947 M); di sepanjang kekuasaan Raja Airlangga (1019 – 1042 M); juga masih muncul di era Kerajaan Kediri (1100 – 1220 M).
Kemudian Periode keempat, yang supaya mudah sebut saja dengan nama aksara “Jawa Majapahit”. Casparis sendiri mengkategorisasikan periode ini sebagai “aksara Jawa dan beberapa aksara regional pada periode Majapahit”.
Berkisar pada masa 1250 – 1450 M, dimana periode ini, aksara Jawa di zaman Majapahit sudah jauh berbeda dengan aksara Palawa sebagai induknya.
Contohnya bisa kita lihat pada inskripsi yang ditulis dalam Prasasti Kudadu di Mojokerto, Prasasti Adan-adan di Bojonegoro, dan Prasasti Singhasari di Malang, dan lainnya.
Periode kelima, yaitu aksara Jawa dari pertengahan abad ke-15 M hingga sekarang, yang berkembang di kalangan Keraton Jawa.
Orang sering menyebut kurun ini sebagai langgam aksara dari era Jawa Baru atau Jawa Modern.
Maka dari pembabakan historis ini segera bisa diketahui, bahwa aksara Jawa sebagaimana kita kenal sekarang tidaklah terbentuk secara serta-merta, melainkan ia juga mengalami sejarah perkembangan dan pembentukannya secara evolutif.
Artinya, bicara secara simplisit dan generalis tentang aksara Jawa, sejauh ini bisa disimpulkan secara historis: Bermula dari aksara Palawa, Jawa Kuno Awal, Jawa Kuno Akhir, Jawa Majapahit, hingga barulah kemudian berkembang menjadi aksara Ha-Na-Ca-Ra-Ka atau Carakan.