Maleo berukuran sedang dengan panjang sekitar 55 sentimeter (cm) dan memiliki bulu warna hitam.
Kulit di sekitar mata berwarna kuning dengan iris mata merah kecokelatan dan kaki abu-abu.
Maleo mempunyai paruh jingga dan bulu sisi bawah merah muda keputihan.
Di atas kepala terdapat semacam tanduk atau jambul keras berwarna hitam.
Sementara ukuran betina lebih kecil dari jantan dengan warna lebih gelap.
Maleo hidup dan berkembang biak di alam liar termasuk beberapa hutan di kawasan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL), termasuk Desa Tuva dan Saluki, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi, Sulteng.
Maleo juga dapat ditemukan di Desa Kadidia dan Kamarora, Kecamatan Nokilalaki, Kabupaten Sigi. Di antara beberapa titik keberadaan maleo, baru di Desa Saluki-lah yang sudah dibangun sistem penangkaran alamiah oleh Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (BBTNLL).
TNLL dikenal sebagai salah satu warisan dunia yang ditetapkan UNESCO menjadi Cagar Biosfer Dunia pada tahun 1977.
Taman Nasional ini sering dikunjungi turis domestik dan mancanegara.
Kini salah satu peran penting TNLL terus berupaya melestarikannya dengan membangun sistem penangkaran sebagai solusi meningkatkan populasi maleo dari kepunahan.
Untuk menghindari pencurian maleo dan telur-telurnya, pihak Balai Besar TNLL pun menggandeng sejumlah pihak termasuk tokoh-tokoh masyarakat setempat agar ikut membantu konservasi maleo.
Sebuah kelompok peduli maleo pun terbentuk di Desa Tuva dan Saluki pada tahun 2005.
Terbentuk sejak 2005, kelompok bernama Cagar Maleo ini selalu menjadi mitra Balai Besar TNLL dalam melakukan berbagai kegiatan konservasi.
Mereka selalu dilibatkan dalam kegiatan pelestarian flora dan fauna di kawasan TNLL termasuk menjaga populasi maleo.
Upaya konservasi maleo dengan membangun penangkaran telah menghasilkan hasil.