Ia kemudian menawarkan konsep dapur dengan skala lebih kecil agar lebih inklusif.
Usulan Mengubah SPPG Menjadi Dapur Nusantara Skala Kecil
Agus mengusulkan agar konsep SPPG diganti menjadi “Katering Warga” atau “Dapur Nusantara”.
Konsep tersebut menggunakan dapur dengan kapasitas maksimal sekitar 500 porsi per hari.
Dengan sistem itu, satu dapur besar yang sebelumnya melayani ribuan porsi bisa dipecah menjadi beberapa dapur kecil.
Menurutnya, satu SPPG dapat dibagi menjadi enam Dapur Nusantara agar lebih banyak masyarakat terlibat.
Modal pembangunan juga menjadi lebih ringan sehingga UMKM dan katering kecil memiliki peluang ikut serta.
Perubahan ini dinilai dapat meningkatkan penyerapan tenaga kerja lokal.
“Semakin banyak titik dapur, penyerapan tenaga kerja dan perputaran ekonomi di daerah akan meningkat juga kok. Tujuan sama-sama tercapai tanpa banyak drama perdebatan soal gizi,” kata Agus lagi.
Baca Juga: Pekanbaru Rayakan HUT ke-242 dengan Bus TMP Gratis, Simak Syarat dan Ketentuan Penumpang
Pemecahan Dapur Bisa Mencegah Praktik Jual Beli Titik SPPG
Selain membuka peluang UMKM, Agus menilai pemecahan dapur besar menjadi titik kecil dapat mengurangi potensi praktik jual beli lokasi pengelolaan.
Ia menyebut nilai ekonomi satu titik SPPG yang besar membuat lokasi tersebut menjadi incaran pihak tertentu.
Harapannya, praktik jual beli titik dapur tidak lagi terjadi karena nilai setiap titik menjadi lebih kecil.
Menurut Agus, saat ini keuntungan dari satu titik SPPG bisa mencapai ratusan juta rupiah per bulan.