nasional

Krisis Energi dan Avtur Mahal Bikin Maskapai Penerbangan Terancam Pangkas Operasional Musim Dingin

Senin, 25 Mei 2026 | 12:48 WIB
Krisis Energi dan Avtur Mahal Bikin Maskapai Penerbangan Terancam Pangkas Operasional Musim Dingin (Ilustrasi gambar )

Musim Dingin Dinilai Kurang Menguntungkan

Maskapai penerbangan diketahui sangat bergantung pada musim panas karena permintaan penumpang biasanya jauh lebih tinggi.

Saat musim panas, tingkat keterisian kursi dan pendapatan maskapai cenderung meningkat signifikan.

Namun ketika musim dingin tiba, permintaan perjalanan biasanya mulai menurun sehingga margin keuntungan semakin kecil.

Dalam kondisi harga avtur mahal, penerbangan musim dingin bahkan dinilai bisa menjadi “tidak ekonomis” untuk dioperasikan.

Karena itu, maskapai mulai mempertimbangkan pemangkasan kapasitas agar tidak mengalami kerugian lebih besar.

Strategi ini dianggap sebagai langkah bertahan di tengah tekanan biaya yang terus naik.

Baca Juga: Kabar NTT! Jadwal Kapal KM Sabuk Nusantara 108 Periode 23 – 31 Mei 2026 Rute Kupang – Wini – Lewoleba – Baranusa – Kalabahi – Mananga

Lindung Nilai Bahan Bakar Mulai Habis

Selama ini banyak maskapai menggunakan sistem hedging atau lindung nilai bahan bakar untuk menekan dampak lonjakan harga minyak dunia.

Namun analis menilai perlindungan tersebut mulai berkurang karena kontrak bahan bakar murah lama perlahan habis.

Artinya, maskapai kini harus membeli bahan bakar dengan harga pasar terbaru yang jauh lebih mahal.

Kondisi itu diprediksi membuat tekanan finansial maskapai semakin berat pada akhir 2026.

Beberapa perusahaan penerbangan dengan kondisi keuangan lemah bahkan dikhawatirkan tidak mampu bertahan.

Maskapai besar dengan neraca kuat seperti Ryanair dan IAG dinilai lebih siap menghadapi situasi ini dibanding operator kecil.

Halaman:

Tags

Terkini