Dakwah yang empatik menjadi ciri khas Gus Miftah yang membuatnya dicintai wong cilik.
3. Menghargai Proses Kecil
Gus Miftah menceritakan pengalamannya mendatangi lokalisasi dan memberi pekerja uang agar berhenti bekerja satu malam.
Baginya, berhenti dari maksiat walau sesaat adalah prestasi.
“Kalau berhenti satu malam saja itu berhasil, kenapa kita tidak menghargai proses?” ujarnya.
Pesan ini mengingatkan bahwa perubahan besar sering dimulai dari langkah kecil, dan setiap usaha untuk kebaikan patut diapresiasi.
4. Empati Tanpa Penghakiman
Publik mengenal Gus Miftah sebagai dai yang mendekat ke komunitas marjinal.
Ia menekankan, orang yang sering disebut pendosa justru memandang orang saleh dengan harap, sementara mereka yang merasa saleh kadang memberi stigma.
Dakwah seharusnya hadir dengan empati, bukan penghakiman.
Filosofi inilah yang membuatnya mampu menjangkau mereka yang sering dijauhi masyarakat.
Baca Juga: Cek Sekarang! Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2026 M Bengkulu Selatan, Lengkap dengan Waktu Sholat
5. Ujian dan Kritik
Dalam sesi tanya jawab, Gus Miftah membahas masa-masa ketika dirinya dihujani kritik.