Tak hanya kelelahan fisik, warga terdampak banjir juga mulai merasakan tekanan mental.
Kehilangan rumah, harta benda, dan rutinitas harian membuat sebagian penyintas mengalami stres berkepanjangan.
Salah satu warga Alur Jambu, Tamiang Hulu, Aceh Tamiang, mengungkapkan rasa sepi dan beratnya beban pikiran ketika berada sendiri.
“Kalau ada suami ada tempat untuk buang pikiran,” ujarnya, menegaskan pentingnya dukungan keluarga.
Kondisi psikologis ini diperparah oleh lambannya bantuan logistik di beberapa daerah.
Dukungan sosial, baik dari tetangga maupun relawan, menjadi penyelamat bagi mereka agar tidak merasa putus asa.
Penting bagi semua pihak untuk memperhatikan kesehatan mental selain kebutuhan fisik.
Trauma Healing Jadi Fokus Perempuan dan Anak-anak
Menteri PPPA, Arifah Fauzi, menegaskan bahwa pemulihan mental menjadi prioritas utama bagi kelompok rentan seperti perempuan dan anak-anak.
Program trauma healing digelar di posko pengungsian untuk membantu mereka pulih dari ketakutan dan tekanan psikologis.
Selain pemerintah, relawan swadaya masyarakat turut menerjunkan personel untuk memberikan pendampingan emosional.
Baca Juga: UMK Magelang 2026 Naik Jadi Rp2.607.790, Cukup Buat Keluarga atau Masih Harus Cari Tambahan?
Aktivitas ini termasuk bermain, konseling, dan dukungan kelompok agar penyintas bisa menyalurkan emosi dengan aman.
Trauma healing bukan sekadar hiburan, tapi bagian dari proses rehabilitasi mental yang krusial pascabanjir.