KLIK SAJA - Penanganan bencana Sumatera yang melanda beberapa wilayah pada akhir November 2025 terus menjadi sorotan publik.
Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya memastikan bahwa pemerintah bekerja masif, bergerak cepat, dan kompak dalam menangani dampak bencana.
Peran Teddy dalam menyampaikan progres penanganan dianggap sebagai momentum penting untuk menunjukkan upaya pemerintah secara nyata.
Pakar Kebijakan Publik dari Universitas Trisakti, Trubus Rahardiansyah, menilai langkah ini menjadi kesempatan pemerintah untuk menjawab kritik terkait persepsi penanganan bencana yang dianggap belum optimal.
Meski wilayah terdampak sangat luas, pemerintah tetap menunjukkan kinerja yang terstruktur dan koordinatif sejak hari pertama bencana.
Menurut Trubus, kondisi penanganan saat ini berbeda dengan Tsunami Aceh 2004.
Saat itu, pemerintah menetapkan status bencana nasional karena keterbatasan, termasuk belum adanya BNPB dan alokasi APBD untuk tanggap darurat.
Kini, pemerintah memiliki keleluasaan lebih, termasuk peran aktif pemerintah daerah, meski masih perlu dorongan kemandirian di level lokal.
Dalam hal ini, sosialisasi dan edukasi warga menjadi kunci agar penanganan bencana lebih efektif, seperti contoh warga Yogyakarta saat letusan Gunung Merapi atau warga Lumajang saat Gunung Semeru.
Teddy Indra Wijaya menjelaskan penanganan bencana secara rinci untuk menepis persepsi publik yang seolah-olah pemerintah tidak bergerak.
“Kita butuh kerja sama, kekompakan, energi positif. Kalau niat bantu, ayo sama-sama hibur warga, timbulkan optimisme, bikin senyum," ujarnya.
Langkah ini, menurut Trubus, membantu menjawab keresahan publik dan menunjukkan dinamika penanganan yang sebenarnya terjadi di lapangan.