Setiap hujan turun, rasa takut kembali menghantui.
Mereka khawatir air akan datang lagi, membawa petaka baru.
Upaya ini diharapkan bisa memberi rasa aman, meski luka di hati belum tentu cepat hilang.
Garoga masih butuh waktu untuk benar-benar bangkit.
Baca Juga: Dari Korban hingga Huntara, Ini Update Lengkap Penanganan Bencana Agam Sumatera Barat Versi BNPB
Menunggu Hunian Tetap, Menata Hidup dari Nol Lagi
Selain pembersihan, pemerintah daerah juga menyiapkan pembangunan hunian tetap bagi korban banjir dan longsor.
Rumah-rumah baru ini ditargetkan rampung pada awal 2026.
Bagi para penyintas, hunian itu bukan sekadar bangunan, tapi simbol harapan untuk memulai hidup lagi.
Namun, bagi orang tua seperti ayah Mumtaz, rumah baru tak akan pernah bisa menggantikan yang hilang.
Meski begitu, mereka mencoba bertahan demi keluarga yang tersisa.
Dari nol, dari duka, mereka berusaha bangkit. Karena hidup harus terus berjalan, meski hati masih tertinggal di masa lalu.
Baca Juga: Bandara Ahmad Yani Diserbu Penumpang Nataru 2025, Harga Tiket Semarang–Jakarta Tembus Segini
Bencana di Sumatera bukan hanya tentang banjir dan longsor, tapi tentang manusia yang kehilangan segalanya.
Kisah Mumtaz hanyalah satu dari sekian banyak duka yang mungkin tak pernah terdengar.