Air bercampur kayu gelondongan menghantam rumah mereka tanpa ampun.
Dalam kondisi panik, sang ibu berusaha sekuat tenaga memeluk Mumtaz.
Namun, derasnya arus dan benturan kayu membuat pelukan itu akhirnya terlepas.
Tangis Mumtaz yang sebelumnya terdengar, mendadak hilang bersama arus air.
Sejak saat itu, hidup sang ayah tak lagi sama.
Detik-Detik Kehilangan yang Tak Akan Pernah Terlupa
Sang ayah mengenang bagaimana istrinya hanyut sambil menggendong Mumtaz yang sedang menangis.
Air sungai naik begitu cepat, seolah tak memberi kesempatan untuk bernapas.
Kayu-kayu besar datang menghantam, memaksa pelukan itu terlepas.
Ia hanya bisa pasrah melihat keluarganya terseret arus.
Beberapa waktu kemudian, jenazah Mumtaz ditemukan, namun kondisinya sudah berubah.
Baca Juga: Saat Duka Bertemu Ikhlas, Cerita Pengungsi Aceh yang Lebih Memikirkan Gaza daripada Lukanya Sendiri
Luka itu tak hanya membekas di tubuh kecil Mumtaz, tapi juga di hati orang tuanya.
Sejak hari itu, setiap detik terasa seperti pengingat kehilangan.