Pertumbuhan Ekonomi Dinilai Masih Episodik dan Rapuh
Ibrahim juga menyoroti bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung bersifat episodik dan tidak terkunci secara struktural.
Utang dan keterbukaan perdagangan, menurutnya, tidak otomatis mendorong akselerasi pertumbuhan.
Hal itu terjadi jika tidak terhubung dengan proses industrial upgrading dan pendalaman rantai nilai global.
Baca Juga: Viral Video Kepala BGN Main Golf, Dadan Hindayana Buka Suara Soal Narasi Nir-empati
Tanpa pembelajaran teknologi berkelanjutan, ekonomi nasional mudah kembali ke pola lama.
Akibatnya, setiap kali terjadi krisis, momentum pertumbuhan ikut terhenti.
Kondisi ini menunjukkan lemahnya fondasi struktural ekonomi.
Indonesia dinilai masih belum memiliki pengaman agar pertumbuhan bisa bertahan dalam jangka panjang.
Pesan ini menjadi pengingat bahwa stabil saja belum tentu cukup. Yang dibutuhkan adalah pertumbuhan yang “terkunci” secara struktural.
Masalah Ketenagakerjaan dan Rendahnya R&D Jadi Penghambat
Struktur ketenagakerjaan dan inovasi juga dinilai masih menghambat transformasi ekonomi nasional.
Baca Juga: Terisolasi dan Terluka, Warga Bonan Dolok Tapanuli Tengah Jalan Kaki 10 Jam Demi Sembako
Penciptaan lapangan kerja masih didominasi sektor berproduktivitas rendah.
Sementara itu, pekerjaan berkeahlian tinggi tumbuh sangat terbatas.