Kehadiran mereka memperkuat harapan bahwa tubuh-tubuh korban yang hilang bisa segera ditemukan.
Tugas itu tak mudah, karena kerusakan alam di lokasi kejadian jauh lebih kompleks dari cerita di permukaan.
Medan Penuh Kayu dan Material Banjir Bikin Deteksi Hampir Mustahil
Mualem mengungkapkan bahwa relawan-relawan BSR kesulitan bekerja karena medan dipenuhi tumpukan kayu.
Material itu bukan sekadar hambatan fisik, tetapi juga menutupi sinyal deteksi yang mereka andalkan.
Akibatnya, kinerja tim belum bisa maksimal seperti yang diharapkan masyarakat Aceh.
Air yang masih menggenang, lumpur yang masih aktif bergerak, dan sisa-sisa puing menjadikan pencarian seperti bekerja dalam teka-teki besar.
“Medannya masih digenangi kayu-kayuan,” ujar Mualem, menggambarkan situasi yang pelik.
Kondisi ini sering membuat relawan kewalahan, bukan karena kurangnya kemampuan, tetapi karena alam seakan membentengi jejak yang ingin mereka temukan.
Meski demikian, tim tetap melanjutkan pencarian tanpa menyerah.
Setelah Aceh Utara, Mereka Dikirim ke Aceh Tamiang
Baca Juga: Kisah Masjid Taqwa Guo yang Tetap Kokoh Walau Diterjang Banjir Bandang di Padang
Setelah bekerja beberapa hari di Aceh Utara, tim China kini dijadwalkan berpindah ke Aceh Tamiang.
Perpindahan ini dilakukan mengikuti prioritas wilayah yang masih memiliki laporan korban hilang dan kondisi medan paling menantang.