Saut menyebut kenaikan ini sebagai sinyal positif bahwa publik mulai kembali percaya pada upaya pemberantasan korupsi.
Meski begitu, ia tetap mengingatkan bahwa kenaikan nilai bukan berarti masalah selesai.
Perubahan perilaku institusi jauh lebih penting daripada angka statistik semata.
Melalui penjelasan ini, Saut menegaskan bahwa momentum perbaikan harus dijaga, bukan dirayakan berlebihan.
Tahun 2024 Gelap Penindakan Korupsi Turun Signifikan
Aktivis ICW, Almas Sjafrina, turut memberi konteks yang tak kalah penting soal apresiasi publik terhadap era Prabowo.
“Di tahun-tahun yang sebelumnya sangat terstruktur sekali misal pelemahan KPK yang berdampak pada penindakan juga,” ujarnya.
Menurut ICW, tahun 2024 memang mencatat penurunan penindakan korupsi yang cukup signifikan.
Data menunjukkan bukan hanya KPK, tapi Kepolisian serta Kejaksaan juga mengalami penurunan kasus yang ditindak.
Baca Juga: Polisi Bongkar Gudang BBM Subsidi 42 Ton di Bangka Belitung, 5 Pelaku Terancam Hukuman Penjara
Kini, ICW melihat Kejaksaan mulai agresif lagi, sementara KPK “baru bangun tidur”.
“Jangan sampai baru mau jadi macan, balik lagi jadi meong,” kata Almas sebuah metafora yang menampar tapi relevan.
Komentar ini menegaskan bahwa harapan terhadap KPK besar, tetapi kecewa publik pun tak kalah besar bila perubahan hanya kosmetik.