Ia mengutip pepatah “history is written by the victors” sebagai sindiran kepada mereka yang dianggap mencoba menulis ulang masa lalu demi legitimasi politik.
Baginya, sejarah bukan hanya milik para pemenang, tetapi milik semua orang yang hidup dan mengalami dampaknya.
Ia juga menegaskan bahwa jika mempertahankan kisah ayahnya membuatnya dianggap sebagai “musuh”, maka ia memilih menjadi musuh yang baik seperti ayahnya.
Kalimat itu langsung menjadi kutipan yang banyak dibagikan warganet karena mengandung perlawanan halus namun kuat.
Baca Juga: Diaspora Indonesia di Sydney Sambut Antusias Presiden Prabowo: 'Very Exciting!’
Gita menutup pesannya dengan pernyataan bahwa ia lebih rela dianggap musuh daripada menjadi “pahlawan” dengan warisan berdarah.
Kritik itu terasa tajam, namun disampaikan dengan kedalaman emosional yang sulit diabaikan.
Penetapan Soeharto sebagai Pahlawan dan Ledakan Perdebatan Publik
Unggahan Gita bertepatan dengan momen ketika Soeharto, simbol kekuasaan Orde Baru, ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
Fakta ini membuat unggahan Gita semakin ramai diperbincangkan karena banyak yang melihatnya sebagai kontras sejarah yang terlalu besar untuk diabaikan.
Publik mempertanyakan apakah gelar pahlawan boleh disematkan tanpa menimbang luka kolektif dan rekam jejak kekuasaan di masa lalu.
Di sisi lain, banyak yang juga menilai bahwa sejarah memang terdiri dari banyak lapis perspektif yang tak selalu hitam-putih.
Baca Juga: Diaspora Indonesia di Sydney Sambut Antusias Presiden Prabowo: 'Very Exciting!’
Namun suara Gita menghadirkan perspektif yang jarang muncul, suara keluarga korban yang hidup di antara puing-puing sejarah.
Perdebatan pun mengalir dari ruang maya ke ruang keluarga, kafe, dan meja makan, seolah mengingatkan bahwa Hari Pahlawan bukan hanya tentang upacara.