Kondisi ini menjadi pengingat bahwa pengawasan sosial dan kesehatan mental siswa perlu jadi perhatian serius.
Penanganan Korban: Medis dan Trauma Healing
Polda Metro Jaya juga memastikan penanganan medis dan pendampingan trauma‑healing dijalankan secara berkelanjutan bagi korban aksi ledakan tersebut.
Jumlah korban yang dilaporkan mencapai 96 orang, dengan rincian 67 luka ringan, 26 luka sedang, dan 3 orang luka berat.
Baca Juga: Daftar Lengkap 10 Pahlawan Nasional Prabowo: Jasa Besar dan Kisah Menarik di Baliknya!
Salah satu posko pendampingan didirikan di RS Islam Cempaka Putih untuk memberikan bantuan cepat kepada guru dan siswa terdampak.
Pemerintah dan sekolah bersama‑sama didorong untuk memastikan anak‑anak korban mendapat ruang pemulihan yang layak, bukan hanya fisik tapi juga emosional.
Langkah ini penting agar trauma jangka panjang tidak berkembang menjadi masalah yang lebih besar di kemudian hari.
Keseriusan dalam pemulihan korban menjadi bagian dari tanggung jawab kolektif pasca‑insiden di lingkungan pendidikan.
Penemuan 7 Bom di TKP Sekolah
Penyelidikan menemukan bahwa di lingkungan sekolah SMA Negeri 72 Jakarta terdapat total 7 buah bom rakitan, dua di antaranya sudah meledak, sisanya masih dalam keadaan aktif saat ditemukan.
“Kami menemukan dua bom di masjid sekolah dengan kawah ledak, empat bom di bank sampah dua sudah diledakkan dan dua masih aktif serta satu lagi di taman baca berbentuk kaleng minuman,” ujar Kombes Henik Maryanto.
Temuan bom ini memperlihatkan tingkat bahaya yang jauh melampaui ekspektasi awal: bukan hanya satu alat peledak, melainkan jaringan mini‑alat peledak di beberapa titik di sekolah.
Kondisi ini tentu memaksa aparat untuk melakukan sterilisasi lingkungan, pengamanan ekstra, serta evaluasi ulang keamanan sekolah secara keseluruhan.