Bertahun-tahun Trump mengklaim bahwa dirinya layak mendapatkan Nobel atas upaya diplomatiknya selama masa jabatan pertama—terutama lewat kesepakatan Abraham Accords yang mempertemukan Israel dengan beberapa negara Arab seperti UEA, Bahrain, dan Maroko pada 2020.
Namun, Trump dan menantunya, Jared Kushner, gagal membuat negara Arab paling berpengaruh—Arab Saudi—ikut menandatangani normalisasi hubungan dengan Israel.
Kesepakatan Abraham Accord dibangun atas ilusi bahwa konflik Israel-Palestina bisa diselesaikan tanpa mempertimbangkan kenyataan kehidupan rakyat Palestina yang hidup di bawah pendudukan di Tepi Barat dan blokade di Gaza.
Masalahnya, jika Trump benar-benar ingin meraih Nobel Perdamaian, ia harus terlebih dahulu menghentikan pertumpahan darah di Gaza.
Itu berarti menggunakan pengaruh AS—berupa miliaran dolar bantuan senjata dan dukungan diplomatik tanpa syarat di PBB—untuk menekan Netanyahu agar menghentikan perang.
Tapi, sejauh ini, Trump menolak menggunakan pengaruh itu, sebagaimana juga dilakukan pendahulunya, Joe Biden, yang justru membanjiri Israel dengan senjata tanpa henti dan dibalas dengan penghinaan dari Netanyahu.
Sulit bagi Trump untuk mengklaim dirinya sebagai tokoh perdamaian ketika pemerintahannya masih terus mengirim lebih dari 35.000 bom BLU-117 buatan AS ke Israel—bom seberat 2.000 pon yang digunakan di kawasan penduduk dan menimbulkan korban sipil dalam jumlah besar.
Ratusan bom ini dijatuhkan di bulan pertama serangan Israel ke Gaza—sebuah intensitas serangan udara yang belum pernah terlihat sejak Perang Vietnam.
Sementara Netanyahu sibuk membujuk Trump dengan surat nominasi Nobel di Washington, pejabat Israel lainnya secara terang-terangan mengungkapkan rencana mereka untuk melakukan pengusiran massal secara paksa terhadap warga sipil di Gaza.***