KLIK SAJA - Dunia dikejutkan pemberitaan lelucon di tengah kegetiran korban perang Gaza.
Lelucon itu berjuduk “Benjamin Netanyahu nominates Donald Trump for Nobel Peace Prize” sekilas terdengar seperti berita satir dari situs The Onion.
Namun, ini adalah berita 100% nyata: Perdana Menteri Israel yang telah didakwa oleh Mahkamah Pidana Internasional atas dugaan kejahatan perang di Gaza tersebut mengusulkan Presiden AS—pemasok senjata terbesar sekaligus pendukung politik terkuatnya—sebagai kandidat penerima penghargaan perdamaian paling bergengsi di dunia.
Hal ini terasa sangat absurd dan liar seperti mencalonkan pengedar narkoba untuk memenangkan Nobel di bidang kedokteran.
Namun di balik aksi publisitas Netanyahu ini terdapat logika sinis: ia memanfaatkan kebutuhan Trump akan sanjungan demi memperpanjang perang brutal Israel di Gaza serta terus melakukan serangan ke negara lain di Timur Tengah, termasuk Iran, Lebanon, dan Yaman.
Sebelum Netanyahu datang makan malam di Gedung Putih pada Senin lalu sambil membawa surat pencalonan Nobel-nya, Trump sempat berencana mengumumkan kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas dalam minggu yang sama.
Namun, terkejut oleh langkah Netanyahu, Trump mundur dari niatnya untuk menekan sang perdana menteri agar mencapai kesepakatan.
Netanyahu pun kembali menang, dengan strategi lamanya: mengulur waktu. Ia telah melakukan ini sejak serangan Hamas ke Israel selatan pada Oktober 2023.
Netanyahu terus menggagalkan upaya negosiasi demi mempertahankan kekuasaan, menjaga koalisi ekstremis pemerintahannya agar tidak runtuh, dan menghindari pemilu dini yang kemungkinan besar akan dimenangkan oleh pihak oposisi.
Terutama, ia ingin menghindari penyelidikan independen atas kegagalan keamanan pemerintahannya menjelang serangan Hamas, serta menghindari proses hukum atas tuduhan suap dan korupsi yang berasal dari masa jabatannya sebelumnya.
Netanyahu—yang dijuluki “si penyintas ulung” dalam politik Israel—adalah taktis yang lihai. Ia memahami psikologi Trump: sanjungan ekstrem dan distraksi.
Ia tahu dirinya tak bisa menyaingi negara-negara kaya Arab seperti Arab Saudi atau Qatar yang bisa memberikan miliaran dolar dalam bentuk bisnis properti, kontrak lapangan golf, bahkan jet mewah seharga jutaan miliar dollar untuk dipakai seperti pesawat kepresidenan.
Tapi Netanyahu memahami bahwa jalan tercepat ke hati Trump adalah dengan menyodorkan pengakuan sebagai tokoh perdamaian global.
Itulah yang dilakukannya saat berjalan memasuki Gedung Putih minggu ini, memanfaatkan rasa dendam Trump yang merasa diabaikan oleh Komite Nobel.