nasional

Bukan Hanya High-Spending Tourist, Wamen Ni Luh Puspa Ungkap Makna Sejati Pariwisata Berkualitas Demi Keberlanjutan Sektor Pariwisata

Minggu, 22 Juni 2025 | 07:24 WIB
Bukan Hanya High-Spending Tourist, Wamen Ni Luh Puspa Ungkap Makna Sejati Pariwisata Berkualitas Demi Keberlanjutan Sektor Pariwisata (Momen Wamenpar Ni Luh Puspa saat memberikan kuliah umum di Universitas Mahendradatta, Denpasar, Bali pada Sabtu, 21 Juni 2025. (Kementerian Pariwisata))

KLIK SAJA - Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa, menegaskan bahwa menerapkan konsep pariwisata berkualitas (quality tourism) adalah cara paling efektif untuk membenahi sektor ini, agar dampaknya semakin positif bagi masyarakat.

Dalam kuliah umum di Universitas Mahendradatta, Denpasar, Bali, pada Sabtu, 21 Juni 2025, Ni Luh Puspa menjelaskan bahwa pariwisata berkualitas tidak berarti hanya menargetkan segmen wisatawan tertentu.

Menurutnya, ini lebih tentang bagaimana kita bisa berbenah secara menyeluruh agar wisatawan mendapatkan pengalaman berwisata yang berkualitas.

Ini mencakup lingkungan yang sehat, tempat yang aman dan nyaman, interaksi yang baik dengan masyarakat lokal, serta kemampuan untuk menghormati budaya setempat.

Baca Juga: Di Balik Kisruh Aceh dan Sumut Atas Sengketa Empat Pulau di Samudera Hindia

Ni Luh Puspa menambahkan bahwa quality tourism memiliki makna yang luas, bukan hanya soal jumlah kunjungan wisatawan.

Ini tentang bagaimana destinasi wisata bisa bersaing dengan menawarkan pengalaman yang unik, bernilai tinggi, dan berkelanjutan bagi para pengunjung.

Ia juga menyoroti adanya kesalahpahaman umum yang mengaitkan pariwisata berkualitas hanya dengan wisatawan yang banyak mengeluarkan uang atau high-spending tourist.

Padahal, tren global pasca-pandemi COVID-19 telah mengubah preferensi wisatawan, yang kini lebih mengutamakan pengalaman yang personal, bertanggung jawab, dan ramah lingkungan.

Wisatawan kini memilih transportasi rendah emisi, destinasi yang tidak padat, serta akomodasi berkelanjutan.

Saat ini, mereka cenderung mencari ketenangan, menjauhi keramaian, dan tertarik dengan destinasi tersembunyi atau hidden gem.

Baca Juga: Grab Ungkap Sulitnya Angkat Mitra Pengemudi Jadi Karyawan Tetap

Konsep ini kemudian sejalan dengan prinsip ekonomi pariwisata baru, yakni low touch, hygiene, less crowd, dan low mobility.

“Keempat prinsip ini yang kemudian memperkuat bahwa quality tourism adalah suatu keniscayaan, ini bukan lagi opsi bagi pemerintah, bagi pelaku industri pariwisata, tapi ini adalah sesuatu yang sudah harus kita lakukan bersama-sama,” kata Ni Luh Puspa.

Halaman:

Tags

Terkini