“Paling tidak ada 3 hal yang bisa saya baca dari pembekalan di Magelang. Pertama, olah pikir. Kedua, olah mental. Ketiga, olah fisik,” jelas Ujang.
Ujang menekankan bahwa ketiga aspek tersebut sangat krusial untuk membangun karakter pemimpin yang efektif.
Adapun Ujang menjabarkan bahwa dalam kategori olah pikir, semua peserta dilatih untuk berpikir yang sistematis, rasional, dan berbasis kerakyatan.
Ini menunjukkan bahwa pemimpin harus mampu mengolah informasi dan membuat keputusan berdasarkan analisis yang mendalam.
Baca Juga: Paska Ditahan Imbang Bahrain dan Dikalahkan China, Berapa Peringkat FIFA Terbaru Timnas Indonesia?
Selain itu, olah mental juga menjadi fokus utama agar para pemimpin dapat menghadapi tantangan dengan ketahanan dan keberanian.
Terakhir, olah fisik menegaskan pentingnya kesehatan dan kebugaran sebagai bagian dari tanggung jawab seorang pemimpin.
Dalam menjalankan tugasnya, para Menteri dan Wakil Menteri diharapkan memiliki mental yang kuat dan tangguh.
“Mentalitas para Menteri, Wakil Menteri itu dididik agar mentalnya harus kuat dan tangguh karena mereka semua telah diminta Presiden komitmennya bekerja keras 24 jam untuk kepentingan rakyat,” ungkap Ujang.
Baca Juga: First Media Buka Loker Sales Penempatan Jakarta
Hal ini menunjukkan betapa pentingnya ketahanan mental dalam menghadapi berbagai tantangan yang ada.
Selain itu, poin ketiga berkenaan dengan olah fisik juga sangat krusial.
Ujang menjelaskan bahwa peserta juga harus kuat jasmaninya oleh karenanya latihan baris-berbaris tersebut diperlukan bukan hanya untuk menyamakan frekuensi, melainkan juga agar badan atau fisik sehat.
“Seorang Menteri, Wamen tidak boleh sakit. Karena jika sakit mereka tidak bisa bekerja,” tegas Ujang.
Kesehatan fisik menjadi salah satu aspek yang tidak dapat diabaikan dalam menjalankan tugas pemerintahan.