Tak hanya Simaninggir, beberapa wilayah lain seperti Bonan Dolok, Naga Timbul, dan Kelurahan Nauli juga masih terisolir.
Banjir dan longsor membuat akses utama ke desa-desa ini terputus.
Badan jalan yang amblas menyulitkan mobilitas warga dan relawan.
Akibatnya, kebutuhan dasar pun sulit dipenuhi dengan cepat.
Baca Juga: Cek Disini! Info Jadwal Kapal Pelni KM Tilongkabila Periode Januari 2026, Lengkapi Lokasi Singgah!
Warga harus menempuh jalur alternatif yang berbahaya.
Kondisi ini memperlihatkan betapa pentingnya percepatan perbaikan infrastruktur.
Tanpa akses yang layak, bantuan akan terus sulit dijangkau.
Baca Juga: Lonjakan Penumpang Kereta Api di Stasiun Tawang Semarang Saat Libur Nataru Capai 67.422 Orang
Perjuangan warga Desa Simaninggir menembus hutan curam demi setengah karung bantuan menjadi potret nyata betapa beratnya hidup pascabencana.
Di balik angka bantuan, ada langkah-langkah penuh risiko yang tak boleh diabaikan.
Semoga akses segera pulih, agar bantuan tak lagi harus ditebus dengan perjuangan seberat ini.***
Artikel Terkait
Dorong Inovasi, IFG Progress Ungkap Kunci Keluar dari Jebakan Pertumbuhan 5 Persen di Forum DEN–LPEM UI
Ramai Ijazah Jokowi di Polda Metro Jaya, Roy Suryo Tegaskan Hanya Diperlihatkan, Bukan Diperiksa
Wujud Hadirnya Negara, Danantara dan BP BUMN Lepas Ribuan Relawan dan Ratusan Truk Bantuan ke Sumatera
Tak Tinggal Diam, Danantara dan BP BUMN Kirim 1.066 Relawan Dampingi Warga Terdampak Bencana
Dari Sabu 4 Ton hingga 224 Ribu Batang Ganja, Ini Hasil Perang BNN Lawan Narkoba di 2025