Beberapa daerah, terutama di Sumatera Utara, memutuskan memperpanjang status tanggap darurat.
Langkah ini diambil untuk memudahkan koordinasi antarinstansi, terutama dalam distribusi bantuan makanan, air bersih, hingga kebutuhan kesehatan.
Pemerintah daerah juga dituntut bergerak cepat karena beberapa lokasi masih terisolasi akibat jembatan rusak dan akses jalan tertutup longsoran.
Tim gabungan dari TNI, Polri, Basarnas, hingga relawan lokal terus menyisir titik-titik yang diduga menjadi lokasi korban tertimbun.
Upaya ini berlangsung maraton dan membutuhkan peralatan berat tambahan untuk mengangkat material tebal.
Semakin lama pencarian berlangsung, semakin besar pula risiko kelelahan bagi tim di lapangan.
Infrastruktur Rusak Parah
Selain korban jiwa, dampak fisik bencana ini juga sangat besar dan mempengaruhi kehidupan jutaan warga.
BNPB mencatat lebih dari 157.000 rumah rusak akibat banjir bandang dan longsor dari rusak ringan hingga rata dengan tanah.
Ribuan fasilitas umum seperti sekolah, tempat ibadah, dan jembatan juga terdampak parah, membuat aktivitas warga nyaris lumpuh.
Kerusakan ini menegaskan bahwa upaya pemulihan pascabencana tidak akan selesai dalam hitungan hari atau minggu.
Baca Juga: Kisah Masjid Taqwa Guo yang Tetap Kokoh Walau Diterjang Banjir Bandang di Padang
Perbaikan infrastruktur menjadi tantangan besar karena beberapa daerah memiliki topografi ekstrem dan akses yang terbatas.
Selain itu, masyarakat harus menghadapi kenyataan bahwa kehidupan mereka berubah drastis dalam waktu singkat.
Artikel Terkait
Banjir Bandang dan Longsor Melanda 18 Kabupaten, BMKG: “Ada Siklon 91S, Curah Hujan Bisa Meningkat”
ACEH BERDUKA! Kisah Ibu yang Menyaksikan Anaknya Hanyut, dan Foto Kecil yang Jadi 'Tabungan di Surga'
Cek Disini! Daftar Harga Emas Perhiasan Per 10 Desember 2025
Cek Disini! Daftar Harga Emas Antam Per 10 Desember 2025
Ternyata Ada Bank Terapung di Indonesia! Ini Cerita Lengkap Teras BRI Kapal yang Setia Menyusuri Pulau-Pulau Kecil