Basarnas dan BNPB mengerahkan tim evakuasi, peralatan berat, hingga drone pencarian korban.
Kumandang sirene ambulans terdengar terus dari posko ke posko, menandakan betapa masifnya operasi penyelamatan.
Di banyak daerah, warga juga bergotong royong membuka akses jalan dan mengevakuasi barang yang masih bisa diselamatkan.
Resapan Hilang, Tambang Naik, Risiko Tak Terkendali
Banyak pengamat menilai bahwa bencana kali ini memperlihatkan sesuatu yang selama ini diabaikan, kerusakan hulu.
Baca Juga: Dua Kabupaten Menyerah Hadapi Bencana, DPRD Mendesak Darurat Nasional
Kawasan resapan yang menyempit, aktivitas pertambangan yang intensif, dan alih fungsi hutan yang tidak selaras dengan kapasitas ekologi membuat wilayah Sumatera rentan.
Saat hujan ekstrem datang, tanah sudah tak mampu menyerap air, dan air pun meluncur liar ke dataran rendah membawa bencana.
Temuan ini sejalan dengan desakan evaluasi kebijakan yang dikirimkan Menko PM.
Momentum Mengubah Arah Kebijakan
Cak Imin menegaskan bahwa langkah ini tidak boleh berhenti menjadi “reaksi setelah bencana.” Evaluasi total diperlukan agar kebijakan baru yang lahir bisa memutus siklus bencana berulang.
Pemerintah diharapkan menata ulang tata ruang berdasarkan risiko iklim, memperketat izin tambang yang memicu risiko ekologis, dan mengembalikan fungsi kawasan hulu sebagai penahan bencana.
Baca Juga: Dua Kabupaten Menyerah Hadapi Bencana, DPRD Mendesak Darurat Nasional
Ini bukan semata keputusan teknis, tapi keputusan moral.
Kiamat yang Bisa Dihentikan
Artikel Terkait
Informasi Jadwal, Rute dan Tarif Kapal Pelni KM Labobar Periode Desember 2025
Info Lengkap Jadwal, Rute dan Tarif Kapal Pelni KM Nggapulu Periode Desember 2025
Catat Yuk! Jadwal, Rute dan Tarif Kapal Pelni KM Gunung Dempo Periode Desember 2025
Dari Alarm Level 1 ke Level 5 dalam 3 Jam, Mengurai Tragedi Kebakaran Hong Kong yang Mengguncang Indonesia
Bantuan Logistik Lamban Pasca Bencana Banjir, Oknum Warga Sibolga Jarah Gudang Bulog