KLIK SAJA - Setelah KUHAP baru resmi diketok pada 18 November 2025, publik mendadak seperti dikejar alarm darurat.
Ada banyak hal yang terasa “janggal”, dan sebagian lagi menunggu diperjelas karena bisa berdampak langsung pada privasi warga.
Perdebatan makin ramai setelah analisis Ferry Irwandi di kanal YouTube Malaka Project viral dan menggerakkan ribuan komentar.
Ferry yang membaca 156 halaman naskah KUHAP mengungkapkan bahwa perubahan draf terjadi begitu cepat dan minim pemberitahuan ke publik.
Situasi ini memunculkan persepsi bahwa publik seolah diajak membaca aturan negara menggunakan stopwatch.
Dari sinilah, percikan-percikan polemik KUHAP mulai membesar.
Ketergesaan Naskah yang Bikin Publik Terengah-engah
Ferry mengungkapkan bahwa draf tanggal 13 November dan versi final 18 November tidak sama dan perubahannya bukan hal kecil.
Publik baru mendapat naskah lengkap hanya beberapa jam sebelum disahkan, seolah diberi tugas membaca tebalnya setara novel fantasy dalam satu tarikan napas.
Situasi ini memicu spekulasi bahwa proses legislasi terasa terlalu cepat untuk aturan sekrusial KUHAP.
Ferry mengaku membaca semua 156 halaman tersebut agar bisa memahami “napas” dari produk hukum terbaru Indonesia.
Namun bagi masyarakat umum, akses mendadak seperti ini jelas terasa tidak inklusif.
Artikel Terkait
Bukan Mimpi! Indonesia Siap Punya Kawasan 80 Hektare di Makkah, Lengkap Hotel, Rumah Sakit, hingga Bisnis Syariah
Ketika Forum Dibungkam, Mengapa Audiensi Ijazah Jokowi Justru Diwarnai Walk Out Massal?
Pedagang Tambah Tarif QRIS Mulai Rp500, Trend Baru atau Pelanggaran Aturan BI? Ini Penjelasannya!
Boy Thohir Borong 3,1 Juta Saham TRIM, Sinyal Kepercayaan Besar pada Masa Depan Pasar Modal Indonesia
Mengapa BJB Masih Bungkam? Kronologi Kecelakaan Golf yang Disebut Sebagai Penyebab Wafatnya Yusuf Saadudin