Tidak ada kekosongan, tidak ada keraguan. Yang ada hanya kelanjutan tanggung jawab yang diwariskan turun-temurun.
Harapan Baru di Tengah Lestarinya Tradisi
Penobatan Pakoe Boewono XIV di usia muda membawa harapan segar.
Masyarakat dan tokoh budaya menilai kehadiran raja muda ini bisa menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan — antara adat yang lestari dan modernitas yang tak bisa dihindari.
Baca Juga: Info Penting! Jadwal & Harga Tiket Kapal Pelni KM Leuser Periode November 2025, Lengkap Linknya!
Surakarta pernah diterpa berbagai polemik internal, namun jumenengnya raja baru di tengah duka memberi sinyal pemulihan marwah Karaton.
Rakyat berharap, di tangan Pakoe Boewono XIV, Karaton kembali menjadi pusat spiritual dan kebudayaan Jawa yang berwibawa.
“Hanglintir kaprabon bukan sekadar prosesi, tapi amanah luhur yang mengikat batin seluruh wong Jawa,” ujar seorang abdi dalem sepuh di sela-sela tangis bahagia.
Warisan yang Tak Lekang oleh Zaman
Kasunanan Surakarta Hadiningrat berdiri sejak tahun 1745.
Telah melahirkan tiga belas raja yang masing-masing membawa warna zaman, kini memasuki masa kepemimpinan keempat belas.
Dari masa ke masa, satu hal tetap tak berubah:
bahwa sumpah raja bukan sekadar kata, tapi ikrar untuk menjaga martabat budaya, keluhuran budi, dan kewibawaan Jawa.
Di tengah modernitas yang serba cepat, prosesi sakral ini seolah menjadi pengingat: ada hal-hal yang tak boleh tergantikan — yakni nilai, adat, dan rasa hormat pada leluhur.
Lestari Adat, Lestari Jati Diri
Artikel Terkait
Solo Berduka! Sri Susuhunan Pakubuwana (PB) XIII Hangabehi Wafat di Usia 77 Tahun, Berikut Profil Perjalanannya
BRI Dukung FLOII Expo 2025 untuk Dorong Ekosistem Hortikultura Indonesia Menuju Pasar Global
SBY Pujikan Haji Mochamad Thohir Sebagai Teladan Kepemimpinan dalam Haul ke-9 di Masjid At-Thohir Depok
Langkah Visioner Prabowo: Modernisasi Alutsista untuk Misi Penyelamatan dan Pemadam Kebakaran Hutan
Langkah Humanis Prabowo, Siapkan Pesawat A400M untuk Misi Evakuasi Medis dan Solidaritas Dunia bagi Gaza